Merokok dapat mempercepat penurunan cadangan sel telur di ovarium, sehingga jumlah dan kualitasnya berkurang lebih cepat. Kebiasaan ini juga dapat mengganggu fungsi tuba falopi yang membawa sel telur menuju rahim.
Upaya menjaga kesuburan wanita tidak hanya berkaitan dengan pemeriksaan medis atau program kehamilan. Sejumlah rutinitas harian dapat memengaruhi keseimbangan hormon, ovulasi, hingga peluang terjadinya kehamilan.
Paparan asap rokok dari lingkungan juga perlu diperhatikan karena dapat memberi dampak yang serupa. CNN Indonesia mencatat ada lima kebiasaan yang sebaiknya diwaspadai oleh wanita yang sedang merencanakan kehamilan.
| Kebiasaan | Dampak Utama | Hal yang Perlu Diperhatikan |
|---|---|---|
| Merokok | Cadangan sel telur menurun | Termasuk paparan asap rokok |
| Alkohol berlebihan | Peluang hamil dapat berkurang | Sebaiknya dihindari saat merencanakan kehamilan |
| Olahraga terlalu berat | Ovulasi dapat terganggu | Dapat menghambat produksi progesteron |
| Obat tanpa konsultasi | Berpotensi memengaruhi ovulasi | Perlu perhatian terhadap NSAID tertentu |
| Pola makan tidak terjaga | Berat badan dapat memengaruhi hormon | Terlalu tinggi maupun rendah dapat berdampak |
1. Merokok
Zat berbahaya dalam rokok berhubungan dengan berkurangnya cadangan sel telur pada ovarium. Kondisi tersebut dapat membuat penurunan kualitas dan jumlah sel telur terjadi lebih cepat dari semestinya.
Selain itu, fungsi tuba falopi dapat ikut terdampak oleh paparan rokok. Tuba falopi memiliki peran penting dalam membawa sel telur menuju rahim.
2. Mengonsumsi Alkohol Berlebihan
Konsumsi alkohol berlebihan diduga dapat menurunkan peluang terjadinya kehamilan. Bagi wanita yang sedang merencanakan kehamilan, menghindari alkohol menjadi pilihan yang lebih aman.
Artikel CNN Indonesia menyebut belum ada batas konsumsi alkohol yang benar-benar aman dalam kondisi tersebut. Karena itu, pembatasan tidak selalu cukup untuk menghilangkan potensi risikonya.
3. Berolahraga Terlalu Berat
Aktivitas fisik tetap penting bagi kesehatan, tetapi latihan berintensitas sangat tinggi secara terus-menerus dapat mengganggu kesuburan. Kondisi ini berkaitan dengan kemungkinan terhambatnya produksi hormon progesteron.
Progesteron berperan dalam proses yang berkaitan dengan ovulasi. Ketika ovulasi tidak berlangsung normal, peluang kehamilan dapat ikut menurun.
4. Konsumsi Obat Tanpa Konsultasi
Penggunaan obat tanpa konsultasi perlu menjadi perhatian, terutama bagi wanita yang sedang menjalani program hamil. Beberapa obat antiinflamasi nonsteroid atau NSAID tertentu dapat memengaruhi proses ovulasi dalam kondisi tertentu.
Konsultasi dengan dokter membantu memastikan obat yang digunakan tidak mengganggu siklus kesuburan. Langkah ini juga penting sebelum meneruskan atau memulai penggunaan obat tertentu.
5. Makan Asal Tanpa Memperhatikan Berat Badan
Berat badan berlebih dapat mengganggu keseimbangan hormon dan membuat ovulasi tidak teratur. Sebaliknya, berat badan yang terlalu rendah dapat menyebabkan sel telur tidak dilepaskan setiap bulan.
Fertility Network UK, yang dikutip CNN Indonesia, menyebut penurunan berat badan sekitar 5 hingga 10 persen pada wanita dengan berat badan berlebih dapat membantu siklus menstruasi lebih teratur serta mendukung fertilitas. Pola makan bergizi dan olahraga seimbang menjadi bagian dari upaya menjaga berat badan.
Kondisi Medis dan Faktor Usia
Kebiasaan sehari-hari bukan satu-satunya faktor yang dapat mengganggu kesuburan wanita. PCOS, endometriosis, gangguan tuba falopi, miom, polip, serta gangguan tiroid juga dapat berperan.
Kesuburan wanita mulai menurun secara alami sekitar usia 30 tahun dan penurunannya lebih signifikan setelah usia 35 tahun. Hal itu terjadi seiring berkurangnya jumlah serta kualitas sel telur.
Pemeriksaan ke dokter disarankan bila telah berhubungan rutin tanpa kontrasepsi selama satu tahun tetapi belum terjadi kehamilan. Evaluasi lebih dini dapat membantu menemukan penyebab dan menentukan penanganan yang tepat.
Source: www.cnnindonesia.com






