Di bawah permukaan air, sejumlah kota kuno masih menyimpan jejak peradaban yang belum sepenuhnya terjawab. Dari reruntuhan yang sengaja ditenggelamkan hingga permukiman yang hilang akibat gempa, setiap situs menghadirkan cerita berbeda tentang naik-turunnya kehidupan manusia.
Temuan-temuan itu memperlihatkan bahwa tenggelamnya sebuah kota tidak selalu berarti lenyapnya seluruh sejarah. Di beberapa lokasi, jalan, bangunan, patung, hingga ukiran batu masih bertahan dan menjadi petunjuk penting bagi arkeolog untuk memahami masa lalu.
Shicheng, kota yang sengaja dipindahkan ke dasar danau
Di Tiongkok, Shicheng menjadi salah satu contoh paling unik karena tidak hilang akibat bencana alam. Kota kuno yang telah ada sejak masa Dinasti Han Timur itu sengaja ditenggelamkan pemerintah pada tahun 1959 untuk pembangunan waduk pembangkit listrik tenaga air.
Kini, Shicheng berada di dasar Danau Qiandao atau Danau Seribu Pulau. Banyak gerbang, bangunan, dan ukiran batu masih bertahan dalam kondisi yang relatif baik meski sudah lama terendam, sehingga kota ini sering dijuluki “Atlantis dari Timur”.
Thonis-Heracleion dan Port Royal, dua kota pelabuhan yang pernah berjaya
Thonis-Heracleion pernah menjadi gerbang perdagangan penting di Mesir sebelum Alexandria berkembang sebagai kota pelabuhan utama. Letaknya yang strategis membuat kota ini ramai disinggahi kapal dari berbagai wilayah untuk bertukar komoditas.
Kota itu akhirnya tenggelam karena gabungan gempa bumi, banjir, dan penurunan tanah. Setelah lama hilang dari ingatan, arkeolog bawah laut menemukannya kembali pada awal tahun 2000-an, lalu berbagai artefak seperti patung raksasa, reruntuhan kuil, dan prasasti kuno mulai mengungkap kisahnya.
Port Royal di Jamaika juga pernah menikmati masa kejayaan sebagai salah satu kota pelabuhan paling makmur di Karibia. Pada abad ke-17, kota ini dikenal sebagai pusat perdagangan sekaligus tempat berkumpulnya para bajak laut.
Semua itu berakhir pada tahun 1692 ketika gempa bumi besar mengguncang wilayah tersebut. Banyak bangunan runtuh, sebagian kota tenggelam ke laut dalam waktu singkat, dan ribuan orang tewas dalam bencana yang kemudian dikenang sebagai salah satu yang paling dahsyat dalam sejarah Karibia.
Pavlopetri, jejak awal permukiman bawah laut
Berbeda dari situs lain, Pavlopetri di lepas pantai Laconia, Yunani, diperkirakan berusia sekitar 5.000 tahun. Kota ini sering disebut sebagai salah satu kota bawah laut tertua yang pernah ditemukan dan memberi gambaran tentang kehidupan masyarakat awal di kawasan Mediterania.
Meski telah lama terendam, tata kota Pavlopetri masih bisa dikenali dengan jelas. Peneliti menemukan jejak jalan, bangunan, dan susunan permukiman yang menunjukkan adanya komunitas yang terorganisasi dengan baik pada masa Zaman Perunggu.
Bagi arkeolog, situs ini penting karena membantu memahami kehidupan dan perkembangan peradaban pada periode awal tersebut.
Dwarka, kota yang masih diperdebatkan
Dwarka memiliki cerita yang berbeda karena erat kaitannya dengan tradisi Hindu dan kisah Dewa Krishna. Selama berabad-abad, kisah tentang kota ini terus hidup dalam berbagai naskah dan tradisi Hindu.
Ketertarikan terhadap Dwarka meningkat setelah peneliti menemukan sejumlah struktur bawah laut di lepas pantai Gujarat, India, yang diduga berasal dari permukiman kuno. Namun, hingga kini para peneliti masih berbeda pendapat mengenai temuan itu.
Sebagian menilai struktur tersebut dapat menjadi petunjuk tentang kota yang disebut dalam tradisi Hindu, sementara yang lain menilai bukti yang ada belum cukup kuat. Karena itu, usia dan asal-usul Dwarka masih menyisakan banyak pertanyaan.
Dari lima kota kuno ini terlihat bahwa air tidak selalu menghapus jejak peradaban. Dalam banyak kasus, justru reruntuhan di dasar laut dan danau yang membuka kembali cerita tentang perdagangan, bencana, keyakinan, dan cara manusia membangun kota pada masa lampau.
