Kesepakatan damai AS-Iran yang disebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mencapai tahap penting kini bertumpu pada satu isu paling sensitif, yakni nasib uranium Iran yang diperkaya hingga 60 persen dan 20 persen. Jika stok itu dipindahkan atau diencerkan di bawah pengawasan AS, ancaman jangka pendek dari program nuklir Iran disebut bisa ditekan.
Namun, jika uranium tersebut tetap tersimpan, Iran masih mempertahankan kemampuan yang dapat dipakai untuk langkah yang lebih jauh dalam beberapa tahun mendatang. The Jerusalem Post menilai persoalan ini menjadi penentu awal apakah kesepakatan benar-benar memberi keuntungan strategis bagi AS dan Israel atau justru menyisakan risiko lanjutan.
Pembekuan pengayaan dan batas ruang gerak Iran
Isu berikutnya adalah kemungkinan Iran membekukan pengayaan uranium selama 15 hingga 20 tahun. Bocoran sebelumnya menyebut opsi itu mungkin disetujui, tetapi pernyataan Trump justru memunculkan tanda tanya karena ia menyebut ada tingkat pengayaan rendah tertentu yang disepakati.
Detail ini penting karena menentukan seberapa besar ruang yang masih dimiliki Iran dalam program nuklirnya. Jika pengayaan rendah tetap dibatasi ketat dan sentrifugal tidak bisa dibangun ulang dalam jumlah besar, kesepakatan itu dinilai akan sangat menguntungkan AS dan Israel.
Posisi Israel, Lebanon selatan, dan ancaman Hizbullah
Di luar urusan nuklir, pembahasan juga menyentuh kemungkinan penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan. Israel disebut tidak memiliki kepentingan untuk mempertahankan kehadiran militer permanen di wilayah itu, tetapi langkah penarikan tetap dikaitkan dengan pembatasan terhadap Hizbullah.
Israel ingin memastikan Hizbullah tidak semakin kuat di selatan Lebanon dan tidak menyelundupkan senjata presisi jarak jauh baru. Dalam skema yang dibahas, Israel juga berpeluang mempertahankan lima pos pengamatan kecil sebagai zona keamanan.
The Jerusalem Post menilai penarikan itu sebaiknya tidak dilakukan terburu-buru sebelum ada solusi yang lebih menyeluruh terhadap ancaman Hizbullah. Proses tersebut sekaligus dipandang bisa membuka jalan ke arah normalisasi hubungan dengan Lebanon.
Kembalinya strategi MABAM
Jika kesepakatan nuklir benar-benar berjalan, Israel diperkirakan akan menahan operasi militernya terhadap Hizbullah sampai isu uranium 60 persen tuntas. Setelah itu, Israel disebut kemungkinan kembali ke strategi MABAM, atau perang di antara perang.
Strategi ini merujuk pada serangan terbatas, senyap, dan terarah terhadap jalur penyelundupan senjata di Lebanon dan Suriah. Fokusnya bukan perang besar, melainkan upaya menjaga agar transfer senjata strategis tidak memperkuat lawan secara signifikan.
Menurut analisis The Jerusalem Post, menghentikan operasi terhadap senjata kecil Hizbullah mungkin masih bisa dipertimbangkan. Namun, menghentikan seluruh pencegahan terhadap penyelundupan senjata strategis dinilai terlalu berisiko.
Batas toleransi rudal balistik Iran
Poin terakhir yang tidak kalah penting adalah rudal balistik Iran. Israel disebut memiliki ambang toleransi tertentu terhadap jumlah rudal yang dimiliki Teheran, meski angka pastinya tidak diumumkan.
Sejumlah analis memperkirakan batas itu berada di kisaran 4.000 hingga 6.000 rudal. Selama ini, Israel disebut hidup berdampingan dengan fakta bahwa Iran memiliki ribuan rudal balistik, tetapi lonjakan jumlah yang terlalu besar bisa mengganggu keseimbangan pertahanan udara Israel.
Karena itu, The Jerusalem Post menilai Israel perlu menyampaikan batas yang jelas kepada Iran. Jika jumlah rudal melampaui ambang yang dianggap aman, situasi itu dapat dipandang sebagai ancaman langsung yang sulit ditoleransi.
Trump sebelumnya juga mengatakan Selat Hormuz dibuka kembali tanpa biaya tol dan blokade angkatan laut AS terhadap Iran dicabut. Ia menegaskan kepada New York Times bahwa jika kesepakatan akhir terkait nuklir gagal, AS masih bisa melancarkan serangan terhadap Teheran.
Kelima isu tersebut kini menjadi ukuran utama apakah kesepakatan damai AS-Iran akan membawa stabilitas baru atau justru meninggalkan masalah keamanan lain bagi Israel dan kawasan Timur Tengah. Nasib uranium yang diperkaya, pembekuan pengayaan, posisi Lebanon, strategi militer Israel, dan batas rudal balistik Iran akan terus menjadi pusat perhatian dalam pembahasan berikutnya.
