Komisi Eksekutif-Kongres AS tentang Tiongkok menyoroti bagaimana pengaruh dan represi Beijing kini menjangkau jauh melampaui wilayahnya. Laporan itu menggambarkan tekanan yang menyasar aktivis, komunitas diaspora, lembaga budaya, hingga institusi demokrasi di banyak negara.
Yang paling mengkhawatirkan, pola tekanan tersebut tidak berdiri sendiri. Berbagai taktik dipakai bersamaan, mulai dari kekerasan fisik, pelecehan digital, tekanan hukum, sensor budaya, hingga operasi pengaruh yang berlangsung secara terselubung.
Tekanan terhadap aktivis dan diaspora
Laporan itu menyebut warga Hong Kong, Uyghur, Tibet, pembangkang, dan mantan pejabat hidup dalam iklim ketakutan. Mereka disebut menghadapi pengawasan, agresi fisik, tekanan hukum, dan serangan digital yang membuat ruang kritik semakin sempit.
Intimidasi juga tercatat terjadi terhadap pengunjuk rasa di Amerika Serikat, termasuk kekerasan saat KTT APEC 2023 di San Francisco. Kasus itu menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya muncul di sekitar wilayah Tiongkok, tetapi juga di negara yang menjunjung kebebasan berekspresi.
Di sisi lain, diplomat Tiongkok disebut berkoordinasi dengan proksi lokal untuk menghadapi demonstran yang mengkritik Xi Jinping. Pola ini memperlihatkan bahwa intimidasi dapat dibangun lewat jaringan perantara, bukan semata oleh aparat resmi.
Pelecehan digital menjadi alat baru
Salah satu sorotan utama laporan tersebut adalah pelecehan digital sebagai wajah baru represi lintas batas. Bentuk yang disorot antara lain deepfake seksual berbasis AI yang ditujukan kepada aktivis perempuan dan politisi di pengasingan.
Tujuannya bukan hanya mempermalukan target, tetapi juga mendiskreditkan dan mengisolasi mereka dari ruang publik. Kasus Carmen Lau Ka-man dan Ted Hui Chi-fung dipakai sebagai contoh bagaimana teknologi digunakan untuk merusak reputasi dan menghambat keterlibatan politik.
Laporan itu juga menekankan bahwa serangan semacam ini kerap memanfaatkan stereotip gender. Perempuan yang tampil di ranah publik menjadi sasaran tambahan, sehingga tekanan politik berubah menjadi kekerasan psikologis yang lebih kompleks.
Keluarga, budaya, dan kampus ikut terdampak
Pemaksaan melalui perantara muncul sebagai pola yang berulang. Salah satu contoh yang dicatat ialah kasus Kwok Yin-sang, yang dipenjara setelah berupaya membatalkan polis asuransi terkait putrinya, seorang demonstran Hong Kong yang tinggal di luar negeri.
Kasus itu menunjukkan bahwa anggota keluarga dapat dijadikan alat tekanan. Aktivis di luar negeri pun hidup dengan kekhawatiran atas keselamatan kerabat yang masih berada di Tiongkok.
Tekanan juga menjalar ke ruang budaya. Laporan itu menyebut pembatalan festival film New York yang dirancang membahas protes Hong Kong dan penguncian wilayah akibat COVID-19 setelah muncul pelecehan daring dan tekanan terkoordinasi.
Dalam kasus lain, instalasi multimedia Tibet di Bangkok dihapus setelah tekanan dari diplomat Tiongkok. Universitas Sheffield Hallam juga disebut mengalami intervensi serupa, yang menandakan kampus dan lembaga seni ikut berada di bawah pengaruh tekanan politik.
Jalur hukum dan organisasi internasional dimanfaatkan
Laporan tersebut menilai intimidasi hukum sebagai bagian penting dari strategi represi. Ma Ju, seorang pencari suaka Uyghur di Amerika Serikat, disebut menghadapi tuntutan hukum dari entitas yang terkait dengan negara Tiongkok.
Langkah semacam ini dinilai dapat menguras sumber daya, menciptakan ketidakpastian, dan melemahkan mereka yang sudah berada dalam posisi rentan. Sistem hukum asing pun dapat dimanfaatkan untuk membungkam saksi atau pembela.
Di tingkat internasional, laporan itu menguraikan bagaimana LSM yang diorganisir pemerintah bekerja di dalam badan-badan PBB. Mereka disebut mempromosikan posisi Beijing, memantau perbedaan pendapat, dan menekan masyarakat sipil.
Penyalahgunaan pemberitahuan merah INTERPOL juga menjadi perhatian. Meski sebagian negara menolak permintaan yang dinilai bermotif politik, laporan itu memperingatkan bahwa risiko bagi pembangkang tetap ada ketika mereka bepergian atau mencari suaka.
Arsitektur pengaruh yang sulit dideteksi
Laporan itu menggambarkan jaringan asosiasi, kelompok budaya, dan hubungan ekonomi sebagai jalur pengaruh untuk membentuk persepsi tentang Hong Kong, Taiwan, Xinjiang, dan isu sensitif lain. Banyak aktivitas tampak biasa, tetapi tetap bisa menjadi saluran tekanan politik.
Ketidaktransparanan jaringan tersebut membuat pemerintah demokratis lebih sulit mendeteksi dan melawannya. Di saat yang sama, para pengkritik China juga menjadi sasaran kampanye disinformasi, termasuk upaya mendiskreditkan Safeguard Defenders yang berbasis di Madrid melalui unggahan palsu.
Bagi komunitas diaspora, dampaknya berat. Banyak individu disebut mengurangi aktivitas publik karena takut ada pembalasan terhadap keluarga mereka di Tiongkok, sementara perempuan dan kelompok rentan menghadapi tekanan lebih besar akibat serangan digital yang merendahkan.
Amerika Serikat dan sekutunya mulai merespons lewat sanksi, legislasi, dan kerja sama intelijen. Namun, dokumen itu menegaskan bahwa hukum dan mekanisme internasional masih kesulitan mengejar pola represi yang bergerak lintas negara dan memanfaatkan perangkat digital.
Pada akhirnya, laporan tersebut menggambarkan arsitektur kontrol yang mencakup kekerasan, pelecehan digital, tekanan hukum, penindasan budaya, dan pengaruh terselubung. Dokumen itu mendorong masyarakat demokratis memahami skala ancaman ini dan memperkuat perlindungan terhadap hak-hak universal serta integritas ruang publik.
