Perbandingan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai 18 kematian tentara AS dalam konflik Iran memicu kecaman luas. Sorotan menguat karena Pentagon juga mencatat sekitar 500 personel terluka dalam perang tersebut.
Para pengkritik menilai jumlah kematian tidak dapat dipakai untuk mengecilkan beban yang ditanggung prajurit dan keluarga mereka. Dampak konflik juga meluas ke warga sipil Iran, dengan korban jiwa yang jauh lebih besar.
Angka Korban Tidak Hanya Berhenti pada Kematian
Data pemerintah Iran yang dikutip NPR menyebut sedikitnya 3.000 orang tewas sejak perang pecah pada akhir Februari. Angka itu mencakup 168 anak-anak, sementara serangan dan eskalasi militer terus berlangsung.
Di pihak AS, laporan mediaindonesia.com menyebut Pentagon mencatat sekitar 500 personel mengalami luka-luka. The New York Times juga melaporkan adanya dugaan bahwa pemerintahan Trump menahan informasi mengenai puluhan cedera lainnya.
Perang tersebut turut menciptakan tekanan anggaran besar bagi Washington. Menteri Pertahanan Pete Hegseth memperkirakan biaya operasi telah melampaui Rp584 triliun atau US$37 miliar.
Pemerintah juga meminta tambahan anggaran Rp1.058 triliun atau US$67 miliar kepada Kongres. Permintaan itu muncul ketika jalur diplomasi yang sempat dibuka kembali mengalami kebuntuan.
Grafik yang Memicu Reaksi Politik
Trump mengunggah grafik di Truth Social pada Selasa malam yang membandingkan durasi sejumlah perang dengan jumlah tentara AS yang tewas. Dalam unggahan itu, ia menulis, “Ini fakta yang sebenarnya.”
| Konflik | Durasi | Tentara AS Tewas |
|---|---|---|
| Perang Vietnam | 19 tahun | 58.220 |
| Perang Korea | 3 tahun | 36.574 |
| Perang Irak | 9 tahun | 4.600 |
| Perang Afghanistan | 20 tahun | 2.000 |
| Konflik Militer Iran | Tidak dicantumkan | 18 |
| Perang Venezuela | 1 hari | 0 |
Grafik itu menempatkan konflik Iran jauh di bawah sejumlah perang sebelumnya dari sisi kematian personel AS. Namun, unggahan tersebut muncul setelah serangan Iran ke pangkalan AS di Yordania dan Irak menewaskan empat anggota layanan Amerika.
Kritik Lintas Partai
Mantan anggota DPR dari Partai Republik, Marjorie Taylor Greene, menilai unggahan tersebut tidak peka terhadap pengorbanan pasukan. Melalui X, ia menulis, “Trump membual tentang pembunuhan 18 tentara AS. Begitulah cara saya membaca unggahan bodoh ini.”
Gubernur California dari Partai Demokrat, Gavin Newsom, juga mengkritik tindakan Trump karena dianggap tidak menghormati prajurit. Greene mempertanyakan citra Trump sebagai “presiden perdamaian” ketika konflik menewaskan dan melukai personel AS.
Anggota DPR Jason Crow dari Colorado mengatakan kepada CNN bahwa setiap nyawa memiliki arti besar bagi keluarga yang ditinggalkan. Ia menilai cara pandang dalam unggahan tersebut memperlihatkan persoalan serius dalam kepemimpinan saat perang berlangsung.
Gencatan Senjata Kembali Gagal
Kerangka perdamaian atau MoU sempat ditandatangani pada 17 Juni, tetapi kesepakatan itu runtuh setelah serangan berlanjut. Ketegangan terutama meningkat di kawasan Selat Hormuz.
Trump menyatakan gencatan senjata berakhir pada akhir Juni setelah Iran menembaki kapal-kapal di jalur air tersebut. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan Iran memberi sinyal ingin bernegosiasi, tetapi peluncuran rudal dan drone ke kapal menjadi alasan AS meneruskan serangan balasan.
Hingga Selasa malam, AS dilaporkan telah menyerang Iran selama sepuluh malam berturut-turut. Trump dijadwalkan menghadiri prosesi pemulangan jenazah empat anggota layanan yang gugur di Pangkalan Angkatan Udara Dover pada Rabu.
Source: mediaindonesia.com






