Sebanyak 52 tim asal Indonesia melangkah ke tahap presentasi langsung dalam BRICS Industrial Innovation Contest 2026. Dari total 100 proyek yang mendaftar, capaian ini menempatkan Indonesia lebih dekat ke peluang tampil di final global yang akan digelar di Xiamen, China.
Ajang tersebut memuat empat sektor utama, yaitu kecerdasan buatan, industri hijau, teknologi rendah ketinggian, dan elektronika energi. Format ini memberi ruang bagi inovator Indonesia untuk menunjukkan proyek mereka di hadapan jejaring industri BRICS yang lebih luas.
Tahap presentasi langsung menjadi pintu penting sebelum peserta terbaik dipilih menuju final global. Bagi para peserta dari Indonesia, jalur ini bukan hanya soal kompetisi, tetapi juga kesempatan memperluas akses ke ekosistem inovasi internasional.
Peluang modal dan teknologi
Di balik ajang ini, perhatian besar tertuju pada manfaat yang bisa dibawa ke Indonesia, terutama dalam bentuk modal, teknologi, dan pasar internasional. Datang Corporation Limited menempatkan Indonesia sebagai fokus utama pengembangan bisnis luar negeri, sehingga kompetisi ini dipandang sebagai jembatan untuk memperkuat proyek inovasi lokal.
Direktur Departemen Bisnis Internasional Datang Corporation Limited, Jia Bingjun, menyebut perusahaan berkomitmen meningkatkan investasi di Indonesia. Fokus itu terutama diarahkan pada pengembangan sumber daya manusia dan sektor energi nasional.
Jia juga menilai proyek inovasi Indonesia perlu mendapat akses yang lebih luas agar bisa naik kelas. “Di masa depan, pihaknya akan terus meningkatkan skala investasi di Indonesia, menciptakan lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat lokal, serta mencetak lebih banyak tenaga profesional di bidang energi,” ujar Jia Bingjun.
Sejalan dengan arah riset nasional
Dari sisi penelitian, Badan Riset dan Inovasi Nasional melihat kompetisi ini selaras dengan kebutuhan riset yang tengah didorong. Direktur Proyek Kerja Sama Penelitian Internasional BRIN, Ajeng Arum Sari, mengatakan empat kategori lomba itu sangat relevan dengan prioritas penelitian lembaganya.
BRIN menilai sinergi dengan mitra asal China dapat mempercepat lahirnya proyek unggulan dari Indonesia. Ajeng juga melihat ajang ini sebagai jalan untuk membuka lebih banyak kerja sama penelitian dan mempercepat pengembangan inovasi nasional.
“Empat track kompetisi ini sangat sejalan dengan prioritas penelitian BRIN saat ini,” kata Ajeng Arum Sari.
Dukungan dari arah kebijakan industri
Kementerian Investasi dan Hilirisasi Industri membaca kompetisi ini sebagai bagian dari kebutuhan Indonesia memperkuat inovasi modern. Direktur Promosi Wilayah Cahyo Purnomo menilai sektor-sektor yang dilombakan sejalan dengan target pembangunan pemerintah.
Cahyo berharap kerja sama seperti ini dapat menarik lebih banyak aliran modal dan teknologi tinggi ke dalam negeri. Ia juga mengaitkan penguatan inovasi industri dengan visi jangka panjang pemerintah, termasuk Indonesia Emas 2045.
Kementerian Perindustrian pun melihat ajang ini sebagai bagian dari kebutuhan transformasi industri nasional. Staf Ahli Urusan Penguatan Industri Lokal Adie Rochmanto Pandiangan menyebut fokus utama saat ini adalah transformasi digital dan industri hijau.
Menurut Adie, akses ke teknologi maju internasional melalui kompetisi ini dapat memberi dorongan baru bagi industri lokal. Ia menilai perusahaan Indonesia akan lebih cepat beradaptasi dengan perubahan dalam revolusi industri baru.
Indonesia sendiri memiliki posisi penting dalam penyelenggaraan ajang ini karena menjadi anggota BRICS pertama dari Asia Tenggara. Pembukaan kompetisi di Jakarta pada Kamis itu menandai langkah awal yang memperlihatkan peran Indonesia dalam kerja sama inovasi industri di lingkup BRICS.







