Sebanyak 62 butt collector #PuntungBeruntung kini ditempatkan di 28 lokasi strategis di pulau Jawa. Penambahan titik wadah khusus puntung ini menjadi langkah terbaru untuk mendorong kebiasaan membuang limbah pada tempat yang tepat.
Upaya tersebut hadir lewat gerakan #PuntungBeruntung yang sejak awal menempatkan puntung rokok bukan sekadar sebagai sampah, melainkan sebagai material yang masih bisa diolah. Pendekatan ini diarahkan untuk membuka peluang baru dari sisa konsumsi yang selama ini kerap luput dari perhatian.
Gerakan itu juga tidak berjalan sendiri. Sejak 2023, #PuntungBeruntung menjalin kerja sama dengan berbagai komunitas kreatif yang memiliki visi serupa dalam mengembangkan inovasi berbasis pasca konsumsi.
Salah satu mitra yang aktif terlibat adalah KICKYOURBUTT Project atau KYB. Project Manager KICKYOURBUTT, Arya Adhi Nugraha, menyebut aktivasi ini sebagai ruang untuk bercerita tentang bagaimana pasca konsumsi dapat diolah menjadi produk kreatif multiguna.
Dari edukasi ke ruang kolaborasi
Program Dari Sisa Jadi Bisa menjadi salah satu wajah utama gerakan ini saat menyapa publik. Setelah sebelumnya digelar pada Agustus 2025, program tersebut kembali hadir dalam format baru melalui Dari Sisa Jadi Bisa Vol.2 pada 9 Mei 2026 di Brookland Coffee.
Pada gelaran itu, aspek kreatif dari pengolahan puntung tetap menjadi sorotan. Namun, ada penekanan tambahan pada kebiasaan sederhana yang dampaknya besar, yaitu membuang limbah pada wadah yang tepat agar materialnya punya peluang lebih tinggi untuk diproses kembali.
Corporate Communication Head PT Nojorono Tobacco International, Eliza Susanto, menyampaikan bahwa penambahan butt collector ditujukan untuk memperkuat kesadaran masyarakat. Dengan titik yang lebih banyak, kebiasaan membuang puntung pada tempatnya diharapkan bisa lebih mudah terbentuk di ruang publik.
Puntung yang punya nilai guna
Gerakan #PuntungBeruntung tidak berhenti pada pesan edukasi tentang limbah. Program ini juga membuka ruang untuk mengembangkan pasca konsumsi menjadi produk kreatif yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi.
Eliza mengatakan pihaknya berharap gerakan ini dapat melahirkan ide, kolaborasi, hingga peluang bisnis baru dari material hasil olahan puntung. Dengan arah seperti itu, sisa konsumsi tidak lagi dipandang hanya sebagai limbah, melainkan bahan yang masih bisa masuk ke proses kreatif yang lebih panjang.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengelolaan limbah tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Dari kebiasaan sederhana membuang puntung pada tempatnya, peluang untuk menghadirkan produk baru dan gagasan kreatif tetap terbuka lebar.
Source: www.medcom.id






