Sebanyak 66.651 Gugus Depan di Jawa Timur akan menjadi tumpuan besar dalam program “Satu Gudep Satu Rumah RTLH” yang menargetkan renovasi 1.000 rumah tidak layak huni. Skema ini diposisikan sebagai jalur gotong royong agar Pramuka bisa hadir langsung membantu warga yang masih tinggal di hunian yang belum layak.
Ketua Kwarda Jatim HM Arum Sabil menyampaikan target tersebut dalam Rapat Kerja Daerah 2026 di Taman Candra Wilwatikta, Pandaan. Ia menegaskan bahwa gerakan ini tidak berhenti sebagai agenda internal organisasi, tetapi diarahkan menjadi kerja nyata yang memberi dampak langsung di masyarakat.
Gotong royong jadi pijakan utama
Program ini dibangun dengan semangat kebersamaan sebagai fondasi utama. Seluruh Gugus Depan di Jawa Timur didorong ikut bergerak, sehingga kapasitas jaringan Pramuka dianggap cukup besar untuk mengejar target renovasi 1.000 rumah.
Pendekatan tersebut juga diharapkan membuat proses bantuan berjalan lebih cepat dan tepat sasaran. Dengan melibatkan banyak unsur, pelaksanaan di lapangan bisa menjangkau warga yang memang paling membutuhkan perbaikan hunian.
Tidak hanya bertumpu pada anggota Pramuka
Skema “Satu Gudep Satu Rumah RTLH” tidak dirancang hanya dengan mengandalkan tenaga Pramuka. Program ini juga melibatkan masyarakat serta pemilik rumah agar renovasi berjalan sesuai kebutuhan di lapangan.
Kolaborasi itu dinilai penting karena memperkuat kerja bersama tanpa menggeser fokus utama, yaitu membantu warga yang menghadapi persoalan rumah tidak layak huni. Pola seperti ini juga sejalan dengan karakter Gerakan Pramuka yang menekankan kepedulian sosial.
Pemerintah daerah ikut memberi apresiasi
Inisiatif tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Sekretaris Daerah Provinsi Jatim Adhy Karyono menilai program itu selaras dengan upaya pemerintah dalam menekan kemiskinan dan memperluas akses terhadap hunian yang lebih layak.
Adhy juga menyoroti keterbatasan anggaran yang kerap muncul dalam penanganan RTLH. Ia menyebut kemampuan anggaran pemerintah untuk satu unit rumah berkisar antara Rp15 juta hingga Rp20 juta, sehingga dukungan dari Pramuka dan masyarakat menjadi penting untuk memperbesar hasil yang bisa dicapai.
Pendampingan teknis tetap disiapkan
Meski melibatkan relawan dan unsur masyarakat, renovasi rumah tetap akan mendapat pendampingan tenaga ahli dari Dinas Pekerjaan Umum. Langkah ini disiapkan agar pekerjaan di lapangan tetap mengikuti kebutuhan teknis yang benar.
Dengan pendampingan tersebut, program ini tidak hanya mengejar jumlah rumah yang direnovasi, tetapi juga kualitas hasil pengerjaannya. Pemerintah provinsi menilai pola kerja bersama seperti ini berpeluang memaksimalkan sumber daya yang tersedia dan memberi manfaat langsung bagi warga yang membutuhkan hunian lebih layak.
Target 1.000 rumah RTLH pada akhirnya menjadi ujian bagi kekuatan gotong royong 66.651 Gugus Depan di Jawa Timur. Jika seluruh unsur bergerak solid, program ini bisa menjadi contoh penanganan sosial yang mempertemukan kepedulian organisasi kepemudaan, dukungan pemerintah, dan partisipasi masyarakat dalam satu kerja nyata.
Source: www.wartabromo.com