Banyak produk teknologi pernah datang dengan ambisi besar, tetapi tidak semua mampu bertahan setelah dirilis ke pasar. Pada sejumlah kasus, harga yang terlalu tinggi, fitur yang kurang matang, dan ekosistem yang lemah membuat produk-produk itu cepat kehilangan daya tarik.
Daftar berikut memperlihatkan pola yang berulang dalam industri teknologi, yaitu inovasi yang menarik di atas kertas belum tentu cukup ketika kebutuhan pengguna harian tidak terpenuhi. Beberapa di antaranya bahkan dihentikan karena respons pasar jauh di bawah ekspektasi.
1. Humana AI Pin
Humane AI Pin masuk daftar ini karena ekspektasi publik yang sangat tinggi sejak awal. Perangkat wearable berbasis AI itu ditempel di pakaian dan menawarkan fungsi menelepon, mengirim pesan, menjawab pertanyaan, mengambil foto atau video, hingga memproyeksikan teks ke tangan pengguna.
Saat perangkat itu akhirnya meluncur, kritik muncul dari berbagai sisi. Fungsinya dinilai terbatas, cara pakainya rumit, kualitas kamera biasa saja, harganya US$699, dan pengguna masih harus membayar Humane Plan sebesar US$24 per bulan.
2. Amazon Fire Phone
Nama besar Amazon tidak otomatis membuat ponsel ini sukses. Fire Phone yang meluncur pada 2014 membawa layar 4,7 inci, chipset Snapdragon 800, RAM 2GB, serta pilihan penyimpanan 32GB atau 64GB.
Masalah utamanya ada pada perangkat lunak dan nilai jual. Fire OS merupakan versi modifikasi Android tanpa Google Play Store, sehingga pengguna harus mengunduh aplikasi secara manual, sementara fitur Dynamic Perspective tidak cukup kuat untuk menutup harga mahal dan keterbatasan aplikasi.
3. Wii U
Nintendo Wii U juga gagal mengulang kesuksesan Wii. Konsol yang dirilis pada 2012 ini mengandalkan GamePad sebagai daya tarik utama, tetapi nama “Wii U” dan materi promosi yang membingungkan membuat banyak orang mengira perangkat itu hanya aksesori tambahan.
Di sisi lain, GamePad terasa besar, kurang nyaman digenggam, dan baterainya cepat habis. Performa Wii U sendiri biasa saja, sementara di pasar konsol ia harus berhadapan dengan PS4 dan Xbox One yang lebih kuat.
4. Google Glass
Google Glass sempat dipandang sebagai langkah besar menuju perangkat komputasi masa depan. Perangkat yang meluncur pada 2013 ini dijual dengan harga US$1.500 dan membawa kamera 5MP, layar 640 x 360 piksel, chipset OMAP 4430, RAM 2GB, penyimpanan 12GB, dan sistem operasi Glass OS.
Namun, keunggulan teknis itu langsung berbenturan dengan kekhawatiran privasi. Kamera bawaan memicu kritik, sementara sebagian pengguna juga menilai perangkat ini berpotensi mengganggu aktivitas sehari-hari seperti menyetir.
5. Sony PSP Go
Sony PSP Go menjadi contoh perubahan besar yang tidak selalu diterima pasar. Konsol yang dirilis pada 2009 itu hadir sebagai versi lebih kecil dan ringan dari PSP, dengan layar 3,8 inci yang bisa digeser untuk menampilkan gamepad di bawah.
Masalahnya, Sony menghapus slot UMD sehingga PSP Go tidak bisa memainkan game PSP fisik. Dengan harga US$250 yang dinilai terlalu tinggi, penjualannya mengecewakan dan produksinya dihentikan pada 2011.
Microsoft mencoba menantang Android dan Apple lewat Windows Phone pada 2010. Windows Phone 7 menawarkan tampilan live tile yang berbeda dan awalnya hadir di sepuluh ponsel dari Dell, HTC, LG, hingga Samsung.
Microsoft kemudian bekerja sama dengan Nokia untuk menjadikan platform itu sistem operasi utama pengganti Symbian. Meski begitu, pasar sudah dikuasai Android dan iPhone sehingga upaya tersebut sulit menarik perhatian pengguna.
7. Sega Dreamcast
Sega Dreamcast hadir dengan beban besar setelah reputasi Sega merosot tajam usai Saturn kalah dari PlayStation. Pada 1999, Sega mencoba bangkit lewat Dreamcast dengan 18 game launch title.
Sayangnya, PlayStation 2 datang satu tahun kemudian dengan visual game yang lebih baik, dukungan DVD player, dan kemampuan memainkan game PS1. Sega menghentikan produksi Dreamcast pada 2001 dan keluar dari bisnis konsol, meski tetap aktif mengembangkan game.
Source: www.idntimes.com






