Bursa Efek Indonesia (BEI) kini mencatat 51 saham dalam kategori kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) setelah metodologi penghitungan diperbarui. Perubahan ini langsung menyoroti sejumlah emiten besar yang porsi kepemilikannya sangat terkonsentrasi, termasuk DCII, BREN, BYAN, dan DSSA.
Di antara seluruh nama yang masuk daftar terbaru, PT DCI Indonesia Tbk dengan kode saham DCII menjadi yang paling menonjol. Porsi kepemilikan terkonsentrasinya mencapai 99,96 persen, atau nyaris sepenuhnya berada di tangan pemegang saham tertentu.
| Kode | Emiten | Kepemilikan Terkonsentrasi |
|---|---|---|
| DCII | PT DCI Indonesia Tbk | 99,96% |
| PGUN | PT Pradiksi Gunatama Tbk | 99,95% |
| SMAR | PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk | 99,58% |
| BYAN | PT Bayan Resources Tbk | 98,50% |
| DNET | PT Indoritel Makmur Internasional Tbk | 98,06% |
| BREN | PT Barito Renewables Energy Tbk | 97,31% |
| CMNP | PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk | 96,64% |
| DSSA | PT Dian Swastatika Sentosa Tbk | 95,76% |
| BELI | PT Global Digital Niaga Tbk | 93,83% |
Nama-nama lain dalam sembilan besar juga memperlihatkan konsentrasi yang sangat tinggi. PGUN tercatat sebesar 99,95 persen, SMAR 99,58 persen, BYAN 98,50 persen, dan DNET 98,06 persen.
BEI menyebut perluasan kategori ini diterapkan untuk saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan bahwa price impact ratio ditambahkan sebagai indikator untuk menyempurnakan metode identifikasi saham dengan kepemilikan terkonsentrasi.
Jeffrey menjelaskan bahwa price impact ratio dihitung dari perubahan harga saham dibandingkan dengan velocity transaksi. Velocity sendiri merupakan perbandingan rata-rata volume transaksi terhadap jumlah saham yang beredar di publik atau free float.
Dalam konferensi pers di Kantor BEI, Jakarta Selatan, Selasa, 14 Juli 2026, Jeffrey mengatakan revisi metodologi itu membuat 37 saham baru masuk kategori HSC. Ia menegaskan total saham dalam daftar tersebut kini menjadi 51 emiten.
9 Saham dengan Kepemilikan Terkonsentrasi Tertinggi
| Kode | Emiten | Persentase |
|---|---|---|
| DCII | PT DCI Indonesia Tbk | 99,96% |
| PGUN | PT Pradiksi Gunatama Tbk | 99,95% |
| SMAR | PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk | 99,58% |
| BYAN | PT Bayan Resources Tbk | 98,50% |
| DNET | PT Indoritel Makmur Internasional Tbk | 98,06% |
| BREN | PT Barito Renewables Energy Tbk | 97,31% |
| CMNP | PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk | 96,64% |
| DSSA | PT Dian Swastatika Sentosa Tbk | 95,76% |
| BELI | PT Global Digital Niaga Tbk | 93,83% |
Selain sembilan nama tersebut, daftar lengkap HSC memuat emiten dari berbagai sektor, mulai dari perbankan, properti, logistik, hingga pertambangan dan ritel. Di dalam daftar itu terdapat AGII, BREN, DSSA, IFSH, MGLV, RLCO, ROCK, SOTS, WBSA, TCPI, MGRO, SATU, DGWG, HATM, DCII, BYAN, DNET, MORA, SRAJ, BNLI, BINA, PGUN, SOHO, RISE, FAPA, SILO, BBSI, BTPN, STTP, MLPT, GEMS, BELI, MPRO, PRAY, SMAR, CMNT, MKPI, KONI, YUPI, FITT, ALII, KING, FILM, ELPI, POLU, LIFE, MCOL, BNII, BBHI, MEGA, dan CMNP.
Dengan pembaruan metodologi itu, daftar HSC menjadi acuan tambahan bagi pelaku pasar untuk membaca karakter kepemilikan emiten tertentu. BEI menilai informasi tersebut penting agar pasar memiliki gambaran yang lebih jelas tentang saham-saham dengan struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasi.
