Air Garam untuk Wajah Ternyata Punya Batas, Kulit Sensitif Justru Bisa Kena Risikonya

Author: Redaksi Android62

Penggunaan air garam untuk cuci muka boleh dicoba, tetapi para ahli kulit menegaskan ada batas yang tidak boleh diabaikan. Bila dipakai terlalu sering atau dengan cara yang salah, metode ini justru dapat mengeringkan kulit dan memperburuk iritasi.

Risiko itu menjadi perhatian utama karena air garam tidak cocok untuk semua jenis kulit. Pemilik kulit kering dan sensitif termasuk kelompok yang paling perlu berhati-hati, sebab lapisan pelindung kulit mereka lebih mudah terganggu.

Apa yang membuat air garam dianggap menarik

Tren ini kembali ramai dibicarakan karena sejumlah pengguna media sosial mengaitkannya dengan kulit yang lebih bersih dan jerawat yang mereda. Dari sisi kandungan, garam memang memiliki sifat yang dapat membantu mengangkat sel kulit mati dan mengurangi minyak berlebih.

Disadur dari Byrdie dan dibahas oleh lifestyle.kompas.com, air garam dinilai punya potensi sebagai pembersih tambahan karena sifat antibakterinya. Dokter kulit kosmetik Dendy Engelman, MD, menyebut cara ini mungkin memberi efek samping positif berupa berkurangnya jerawat.

Dokter kulit Marisa Garshick, MD, juga menjelaskan bahwa membersihkan wajah dengan air garam dapat membantu mengurangi kelebihan minyak pada kulit berminyak. Efek eksfoliasinya bisa membuat permukaan wajah terasa lebih halus dan tampak lebih cerah.

Aspek Potensi Manfaat Catatan
Jerawat Dapat membantu mengurangi jerawat Bukan pengobatan utama
Minyak berlebih Membantu mengontrol sebum Lebih cocok untuk kulit berminyak
Eksfoliasi Mengangkat sel kulit mati Bisa terasa kasar jika berlebihan

Selain itu, kandungan mineral bawaan seperti magnesium disebut dapat membantu menekan peradangan. Karena itu, air garam sempat dipandang berpotensi meringankan kondisi seperti eksim dan psoriasis.

Risiko yang tidak bisa disepelekan

Meski ada potensi manfaat, para dokter kulit mengingatkan bahwa air garam tetap bukan solusi utama untuk jerawat. Lauren Penzi, MD, dari MDCS Dermatology, menegaskan bahwa garam memang bersifat antibakteri, tetapi tidak layak diposisikan sebagai pengganti perawatan yang tepat untuk kulit rentan berjerawat.

Marisa Garshick menambahkan bahwa terlalu banyak air garam bisa mengeringkan kulit dan memperburuk kondisi tertentu. Engelman bahkan menyebut dirinya tidak merekomendasikannya sebagai alternatif eksfolian kimia karena sifat abrasifnya dapat merusak kulit.

Dampak itu menjadi alasan mengapa kulit kering dan sensitif perlu lebih waspada. Pada dua jenis kulit tersebut, efek kasar dari garam lebih mudah memicu rasa tidak nyaman, kemerahan, atau iritasi.

Cara pakai yang dinilai lebih aman

Bagi yang tetap ingin mencoba, para ahli menyarankan penggunaan yang sangat terbatas. Garam sebaiknya dicampurkan sedikit ke dalam air panas, lalu dibiarkan dingin sebelum dipakai ke wajah.

Jenis garam juga perlu diperhatikan agar tidak menambah risiko gesekan. Garam laut atau garam meja yang bertekstur halus lebih disarankan, sedangkan garam Epsom dan garam Himalaya yang lebih kasar sebaiknya dihindari.

Engelman menyarankan pemakaian maksimal satu atau dua kali seminggu bila seseorang tetap bersikeras menjajalnya. Sebagai alternatif yang dinilai lebih aman, produk pembersih wajah yang memang sudah mengandung garam disebut dapat menjadi pilihan dibanding racikan rumahan.

Pada akhirnya, air garam untuk cuci muka bukan larangan mutlak, tetapi juga bukan kebiasaan yang layak dijalankan tanpa pertimbangan. Jika kulit mudah kering, sensitif, atau sedang mengalami eksim, metode ini justru berpotensi memperburuk keadaan daripada membantu.

Berita Terbaru