Bek timnas Prancis, Ibrahima Konate, menegaskan bahwa Les Bleus tidak memiliki alasan untuk merasa terintimidasi saat menghadapi Spanyol di semifinal Piala Dunia 2026. Ia menyebut skuadnya tetap fokus pada persiapan pertandingan dan tidak larut dalam komentar dari luar lapangan.
Konate menanggapi pernyataan Lamine Yamal yang meremehkan Prancis jelang laga besar tersebut. Dalam komentar yang dikutip AS, ia menolak anggapan bahwa ucapan pemain muda Spanyol itu akan mengganggu kesiapan timnya.
Prancis Pilih Tenang Menjelang Laga Besar
Menurut Konate, yang terpenting bagi Prancis adalah menjaga sikap rendah hati dan terus bekerja dengan tenang. Ia menilai pembicaraan publik tidak perlu dijadikan beban, karena hasil pertandingan akan berbicara sendiri di lapangan.
“Dia boleh bicara apa saja. Tidak, tidak, kami tidak takut, kami tidak perlu takut pada siapa pun,” ucap Konate.
Ia juga menegaskan bahwa timnya memilih untuk tidak mendengarkan ramai-ramai komentar yang berkembang di luar. “Sejujurnya kami tidak mendengarkan apa yang sedang dibicarakan orang. Kami akan berusaha melakukan persiapan sebaik mungkin, dan pada akhir pertandingan nanti kita lihat siapa yang menang,” katanya.
Balasan dari Ucapan Lamine Yamal
Sebelumnya, Yamal menyebut justru Prancis yang seharusnya takut kepada Spanyol. Pernyataan itu merujuk pada dua hasil pertemuan terakhir kedua tim, yakni kekalahan Prancis dari Spanyol di semifinal Euro 2024 dan final UEFA Nations League 2025.
Yamal mengatakan, “Jika Prancis harus takut pada siapa pun, itu adalah kami,” seperti dikutip dari Mundo Deportivo. Ucapan tersebut memantik respons dari kubu Prancis dan membuat duel dua kekuatan besar Eropa itu terasa semakin panas.
| Tokoh | Pernyataan Kunci | Sumber Kutipan |
|---|---|---|
| Ibrahima Konate | Prancis tidak takut pada siapa pun dan tetap fokus pada persiapan | AS |
| Lamine Yamal | Prancis yang seharusnya takut kepada Spanyol | Mundo Deportivo |
Ketegangan jelang semifinal itu kini bukan hanya soal kekuatan di atas kertas, tetapi juga soal perang komentar antara dua kubu. Di tengah sorotan tersebut, Prancis mencoba menjaga kepala tetap dingin sambil menunggu pembuktian di lapangan.
