IHSG masih berada dalam fase yang rapuh untuk perdagangan pekan ini. Sejumlah sentimen dari luar negeri dan pelemahan rupiah membuat peluang pelemahan indeks belum sepenuhnya hilang, meski pada penutupan pekan lalu indeks sempat menguat tipis.
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi menempatkan area 5.840 sebagai support dan 6.040 sebagai resistance untuk awal pekan. Sementara itu, Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat IHSG cenderung bergerak sideways dengan support 5.742 dan resistance 6.112.
Tekanan yang masih membayangi pasar
Fokus utama pelaku pasar saat ini tertuju pada berakhirnya gencatan senjata antara AS dan Iran serta pernyataan yang kembali menutup Selat Hormuz. Menurut Oktavianus, kondisi tersebut dapat memicu kekhawatiran kenaikan harga minyak mentah dan membuat bank sentral mempertahankan kebijakan moneter yang hawkish lebih lama.
Di dalam negeri, rupiah juga kembali berada di level Rp18.080 per dolar AS. Bersamaan dengan itu, aksi jual bersih investor asing masih besar, yakni Rp1,74 triliun dalam sepekan, sedangkan net sell sepanjang tahun berjalan telah mencapai Rp75,6 triliun.
Data perdagangan pekan lalu masih menunjukkan ketahanan
Meski dibayangi tekanan, Bursa Efek Indonesia mencatat IHSG tetap menguat 11,91 poin atau 0,20 persen ke level 5.924 pada Jumat (10/7). Secara mingguan, indeks naik 0,83 persen setelah menguat dalam empat hari dan melemah satu hari.
Kautsar Primadi Nurahmad, Sekretaris Perusahaan BEI, menyebut periode 6 sampai 10 Juli 2026 ditutup mayoritas positif. Kapitalisasi pasar naik 0,51 persen dari Rp10.287 triliun menjadi Rp10.340 triliun, sementara rata-rata volume transaksi harian naik 16,83 persen dari 17,54 miliar menjadi 20,49 miliar lembar saham.
Di sisi lain, rata-rata nilai transaksi harian turun 8,88 persen dari Rp11,27 triliun menjadi Rp10,27 triliun. Frekuensi transaksi harian justru meningkat 29,69 persen dari 1,44 juta kali menjadi 1,87 juta kali transaksi pada penutupan pekan lalu.
| Indikator | Perubahan | Keterangan |
|---|---|---|
| IHSG Jumat (10/7) | +11,91 poin atau 0,20% | Level 5.924 |
| Kapitalisasi pasar | +0,51% | Dari Rp10.287 triliun ke Rp10.340 triliun |
| Volume transaksi harian | +16,83% | Dari 17,54 miliar ke 20,49 miliar lembar |
| Nilai transaksi harian | -8,88% | Dari Rp11,27 triliun ke Rp10,27 triliun |
| Frekuensi transaksi harian | +29,69% | Dari 1,44 juta ke 1,87 juta kali |
5 saham yang masuk radar analis
Dari sisi teknikal, Oktavianus merekomendasikan ADRO dan TINS. ADRO ditutup menguat 4,37 persen ke posisi 2.390 pada pekan lalu dan diproyeksikan menuju 2.550, sedangkan TINS naik 3,27 persen ke 3.470 dengan target 4.010.
| Saham | Penutupan Pekan Lalu | Target | Analis |
|---|---|---|---|
| ADRO | 2.390 | 2.550 | Oktavianus Audi |
| TINS | 3.470 | 4.010 | Oktavianus Audi |
Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas menyoroti ARCI, BMRI, dan TAPG. ARCI ditutup menguat 4,71 persen ke level 1.000 dan diproyeksikan menyentuh 1.225, BMRI naik 0,99 persen ke 4.080 dengan target 4.270, sementara TAPG menguat 0,98 persen ke 1.540 dan berpotensi menuju 1.700.
| Saham | Penutupan Pekan Lalu | Target | Analis |
|---|---|---|---|
| ARCI | 1.000 | 1.225 | Herditya Wicaksana |
| BMRI | 4.080 | 4.270 | Herditya Wicaksana |
| TAPG | 1.540 | 1.700 | Herditya Wicaksana |
Herditya menambahkan, pasar juga akan menunggu risalah rapat The Fed, laporan keuangan emiten kuartal II 2026, data makroekonomi China, serta pergerakan rupiah dan harga komoditas global. Dengan kombinasi sentimen tersebut, arah IHSG pekan ini masih sangat bergantung pada respons investor terhadap kabar eksternal dan arus dana asing di pasar saham.
Catatan redaksi: Berita ini tidak dibuat untuk merekomendasikan atau tidak merekomendasikan saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca.
