Paparan air minum yang tidak aman masih menjadi ancaman yang sering tidak terlihat di banyak rumah tangga. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan rasa haus yang tidak terpenuhi, tetapi juga dengan kualitas air yang diminum setiap hari.
Di antara kelompok yang paling rentan, anak menjadi perhatian utama karena air minum yang tercemar dapat mengganggu penyerapan nutrisi dan berdampak pada tumbuh kembang. Referensi yang digunakan menyebut risiko stunting pada anak yang terpapar air minum tidak aman dengan kontaminasi mikrobiologis bisa mencapai 4,14 kali lebih tinggi dibandingkan anak yang mengonsumsi air aman.
Masalah ini kerap muncul karena keluarga lebih sering menilai cukup atau tidaknya minum dari seberapa sering rasa haus muncul. Praktisi kesehatan RS Mitra Keluarga Bintaro, Adelina Haryono, menilai kesadaran tentang kecukupan cairan masih perlu diperkuat karena banyak orang merasa sudah cukup minum, padahal kebutuhan tubuh belum benar-benar terpenuhi.
Data yang disampaikan dalam referensi menunjukkan sekitar 1 dari 5 anak dan remaja serta 1 dari 4 orang dewasa masih mengalami kekurangan cairan. Angka ini memperlihatkan bahwa dehidrasi ringan bisa terjadi tanpa disadari, terutama ketika kebiasaan minum tidak teratur sepanjang hari.
Air sendiri memegang peran penting dalam tubuh manusia karena menyusun sekitar 50% hingga 60% komposisi tubuh. Cairan ini membantu pembentukan sel dan menjaga keseimbangan tubuh agar organ dapat bekerja dengan baik.
Adelina menyebut kebutuhan cairan anak umumnya berada pada kisaran 1,2 hingga 1,5 liter per hari. Untuk orang dewasa, kebutuhan air berada di kisaran 1,8 hingga 2 liter per hari.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak menunggu rasa haus baru minum. Rasa haus biasanya muncul ketika tubuh sudah mulai kekurangan cairan, sehingga asupan air perlu dijaga lebih stabil sejak awal.
Kualitas air juga tidak boleh diabaikan
Persoalan air minum tidak berhenti pada jumlah yang dikonsumsi. Kualitas air yang masuk ke tubuh setiap hari juga menentukan aman atau tidaknya kebiasaan minum dalam jangka panjang.
Dipl in Nutrition, MKK, Nutrition Design & Hydration Science Research and Innovation Aqua, Tria Rosemiarti, menyebut masih banyak rumah tangga yang mengonsumsi air yang tidak aman. Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga yang dirujuk menunjukkan sekitar 7 dari 10 rumah tangga mengonsumsi air yang terkontaminasi bakteri Escherichia coli.
Tria juga menjelaskan bahwa hanya sebagian kecil masyarakat yang sudah memiliki akses ke air minum aman. Situasi itu membuat paparan dari sumber air tercemar masih tinggi di banyak rumah tangga.
Sebagian warga memang memilih merebus air sebelum diminum. Namun, langkah tersebut tidak selalu cukup karena perebusan memang bisa membunuh sebagian besar bakteri, tetapi tidak menghilangkan logam berat atau senyawa berbahaya lain yang mungkin masih terbawa di dalam air.
Anak lebih rentan terdampak
Jika air yang diminum tidak aman, dampaknya bisa langsung terasa pada anak. Salah satu akibat yang disorot adalah terganggunya penyerapan nutrisi, yang pada akhirnya bisa memengaruhi proses tumbuh kembang.
Referensi yang digunakan juga menyebut paparan air minum yang tidak aman dapat berkaitan dengan gangguan daya ingat, kemampuan bahasa, dan performa akademik anak. Temuan ini membuat persoalan air minum tidak bisa dipandang sebagai urusan sepele di dalam rumah.
Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa edukasi soal air minum perlu berjalan di dua arah. Keluarga perlu memahami pentingnya minum cukup, tetapi pada saat yang sama juga harus lebih cermat saat memilih sumber air yang benar-benar aman untuk dikonsumsi.
Risiko yang sering tersembunyi di rumah
Banyak keluarga lebih fokus menghitung jumlah gelas air yang diminum daripada memeriksa keamanan airnya. Padahal, masalah bisa datang dari sumber air yang tercemar, kualitas air yang tidak layak, atau kebiasaan minum yang belum sesuai kebutuhan tubuh.
Jika dua hal itu sama-sama diabaikan, dehidrasi ringan dan paparan zat berbahaya dapat berjalan beriringan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membebani kesehatan keluarga, terutama anak yang lebih rentan terhadap dampak kekurangan cairan dan air minum yang tidak aman.
Karena itu, perhatian terhadap kebiasaan minum dan sumber air perlu menjadi bagian dari rutinitas harian keluarga. Di tengah temuan bahwa sebagian besar rumah tangga masih mengonsumsi air yang terkontaminasi, upaya sederhana untuk memastikan asupan yang cukup dan aman dapat membantu melindungi kesehatan sejak dini.
