Aksi Bakar Diri di Depan PBB, Aktivis Tibet Tewas Usai Protes China

Author: Redaksi Android62

Seorang pria yang diidentifikasi sebagai aktivis Tibet, Lobga Rangzen, meninggal pada Kamis malam setelah membakar diri di luar markas Perserikatan Bangsa-Bangsa di Manhattan. Insiden itu kembali memusatkan perhatian pada konflik panjang terkait Tibet dan protes terhadap kebijakan Beijing.

Rekaman video yang beredar menunjukkan Rangzen mengenakan jubah sambil memegang bendera Tibet. Ia lalu menancapkan bendera itu pada sebuah tiang sebelum menyalakan alat pembakar dan langsung dilalap api.

Petugas darurat datang dengan alat pemadam lebih dari satu menit kemudian dan segera memadamkan api. Saat bantuan tiba, Rangzen sudah tergeletak di tanah, dan kemudian dibawa ke Bellevue Hospital sebelum dinyatakan meninggal dunia, menurut laporan New York Post.

Identitas dan seruan terakhir

Voice of Tibet, media pengasingan Tibet, menyebut pria itu sebagai Lobga Rangzen dan mengatakan ia melakukan aksi bakar diri setelah menyampaikan “seruan langsung untuk kemerdekaan dan persatuan Tibet”. Gonpo Dhundup, anggota parlemen pengasingan Tibet, juga menyebut tindakan itu sebagai “pengorbanan tertinggi” untuk memprotes pendudukan China atas Tibet dan represi terhadap rakyat Tibet.

International Campaign for Tibet menuliskan bahwa Rangzen merupakan “advokat tanpa lelah bagi Tibet” yang selama ini mengabdikan diri untuk meningkatkan kesadaran secara damai tentang krisis kemanusiaan di Tibet. Organisasi itu juga mengutip pernyataan terakhir Rangzen di akun Facebook-nya, yang berisi peringatan bahwa kebijakan China mengancam kelangsungan identitas, bahasa, dan budaya Tibet.

Konflik Tibet dan tekanan asimilasi

China menguasai Tibet sejak 1951 dan memandang wilayah itu sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayahnya sejak zaman kuno. Partai Komunis China juga menganggap gerakan kemerdekaan Tibet sebagai salah satu dari apa yang disebut “Five Poisons” yang mengancam klaim teritorialnya.

Aksi tersebut terjadi dua hari setelah Undang-Undang Promosi Persatuan dan Kemajuan Etnis China mulai berlaku. Beijing menyebut aturan itu dirancang untuk mendorong kohesi di antara 56 kelompok etnis di negara itu.

Namun, para pembela hak asasi menilai kebijakan tersebut justru mendorong kelompok etnis seperti Tibet untuk mengikuti budaya Han China yang dominan. Sarah Brooks, Wakil Direktur Regional Amnesty International, mengatakan istilah “persatuan” dalam konteks itu bukan harmoni antar-komunitas, melainkan keselarasan politik dan ideologis dengan Partai Komunis China.

Brooks juga menilai undang-undang itu berisiko memberi dasar hukum yang lebih kuat untuk represi lintas negara terhadap mereka yang secara damai memperjuangkan hak-hak minoritas di China. Ia menambahkan bahwa kebijakan tersebut dapat semakin melembagakan pemaksaan asimilasi terhadap Uyghur, Tibet, dan kelompok etnis non-Han lainnya.

Protes bakar diri yang berulang

International Campaign for Tibet menyebut 159 orang Tibet telah melakukan bakar diri di Tibet, China, dan dalam pengasingan sejak 2009. Angka itu menunjukkan bahwa aksi ekstrem semacam ini masih muncul berulang dalam konflik Tibet yang belum mereda.

Berita Terbaru