Rekaman seorang pengemudi Calya yang mengamuk dan merusak mobil lain di jalan memicu sorotan luas karena pelat nomor kendaraannya juga tampak ditutup pada dua huruf belakang. Dalam foto yang beredar, nomor yang masih terlihat adalah B-2567-P**.
Aksi itu disebut terjadi setelah pengemudi Calya diduga tersinggung saat hendak menyalip. Mobil tersebut kemudian disebut mendahului Mini Cooper yang dikendarai korban, lalu melakukan pengereman mendadak sebelum situasi memanas.
Kerusakan yang terlihat di mobil korban
Video yang diunggah akun dashcam_owners_indonesia memperlihatkan pria tersebut merusak spion dan wiper mobil lawan. Ia juga sempat berupaya memecahkan kaca depan dengan cover spion yang terlepas.
Dalam keterangan unggahan itu, korban menyebut tidak merasa menabrak mobil Calya seperti yang dituduhkan pengemudi. Ia juga menuliskan bahwa mobil miliknya tidak tampak mengalami penyok atau lecet.
“Lalu triak2 bilang saya nabrak dia. Krn saya yakin saya ga nabrak (seperti ada di foto kondisi mobil dia tidak ada penyok atau lecet sedikitpun) Saya ga mau turun dan mobil saya langsung di rusak, spion saya di hancurkan. wiper saya ditekuk sampe stgh patah,” demikian bunyi caption yang dibagikan.
Pelat nomor ikut jadi perhatian
Selain tindakan agresif di jalan, pelat nomor Calya juga menarik perhatian karena tidak terlihat utuh. Dua huruf terakhir pada pelat itu ditutup, sehingga identitas kendaraan menjadi sulit dibaca penuh dari foto yang beredar.
Penutupan pelat nomor tersebut sekaligus menjadi pelanggaran karena menghambat identifikasi kendaraan. Di tengah rekaman yang beredar, detail itu membuat kasus ini tidak hanya soal emosi di jalan, tetapi juga soal aturan lalu lintas.
Pandangan pakar keselamatan berkendara
Pakar keselamatan berkendara dari Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, menilai aksi arogan di jalan sering berulang karena pelaku tidak merasakan efek jera. Ia menyebut hukum masih lemah dan seolah berpihak kepada mereka yang bertindak agresif.
“Pertanyaan yang paling simple adalah kenapa mereka selalu berlaku atau bahkan berulang secara arogan? Karena tidak ada efek jera, hukum sangat lemah dan seolah berpihak ke mereka yang arogan,” ujar Sony kepada detikOto, Jumat (10/7/2026).
Sony menyarankan pengendara untuk tidak meladeni provokasi serupa. Menurut dia, langkah paling aman adalah mengalah, menjaga jarak, tetap tertib, dan tidak memberi ruang bagi kemarahan di jalan.
“Tindakan paling relevan adalah ngalah, jaga jarak, tertib, dan senyum. Tebarkan hal-hal positif dan jangan kasih ruang mereka melampiaskan arogansinya,” kata Sony.
Emosi di jalan bisa berujung kerugian lebih besar
Kasus ini menambah daftar insiden yang berawal dari persoalan sepele, seperti tidak diberi jalan saat menyalip. Dari situ, emosi pengemudi bisa berubah menjadi kerusakan kendaraan dan risiko yang lebih besar bagi pengguna jalan lain.
Karena itu, pengendara diimbau tetap tenang ketika berhadapan dengan pengemudi agresif. Menjaga jarak dan menghindar dinilai jauh lebih aman daripada membalas tindakan di jalan.
