Rumah Yatim Terancam Direbut, Anak-Anak Bambu Bawa Perjuangan Menjaga Pulang

Rumah yang menjadi tempat pulang anak-anak yatim terancam hilang akibat perebutan lahan dalam film Anak-Anak Bambu. Konflik tersebut menempatkan para penghuni rumah pada perjuangan mempertahankan ruang hidup yang menyimpan perlindungan, kenangan, dan kebersamaan.

Ancaman kehilangan bangunan itu menjadi inti drama yang dibawa film produksi Theana Pictures bersama PT Armada Bumi Investama. Anak-Anak Bambu dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 23 Juli 2026.

InformasiDetail
Judul filmAnak-Anak Bambu
Jadwal tayang23 Juli 2026
ProduksiTheana Pictures dan PT Armada Bumi Investama
Kampanye sosialKegiatan bersama anak-anak yatim di 11 kota

Rumah Menjadi Taruhan dalam Konflik Lahan

Dalam cerita ini, rumah yatim tidak hanya berfungsi sebagai latar peristiwa. Tempat tersebut menjadi ruang tempat anak-anak tumbuh bersama dan menghadapi ketakutan saat tempat pulang mereka dipertaruhkan.

Perebutan lahan kemudian membuka konflik tentang solidaritas, kehilangan, dan harapan. Para penghuni rumah dihadapkan pada persoalan yang menyentuh kebutuhan paling mendasar, yakni diterima serta memiliki tempat untuk kembali.

Produser Elma Theana menilai gagasan film ini berangkat dari fenomena yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Ia menekankan bahwa cerita tersebut tidak semata-mata berbicara mengenai bangunan atau panti asuhan.

“Ini adalah cerita tentang manusia yang ingin diterima, dicintai, dan memiliki tempat untuk pulang. Kami berharap pesan tersebut dapat dirasakan oleh seluruh penonton Indonesia,” ujar Elma Theana di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Ikatan Keluarga di Luar Hubungan Darah

Anak-Anak Bambu mengangkat pandangan bahwa keluarga dapat terbentuk melalui kepedulian dan ketulusan. Nilai kasih sayang yang melampaui ikatan biologis menjadi kekuatan para penghuni ketika menghadapi ancaman terhadap rumah mereka.

Sutradara Dyan Sunu Prastowo ingin menghadirkan cerita yang sederhana dan dekat dengan keseharian. Menurutnya, cinta, kenangan, serta kebersamaan dapat membangun ikatan kuat di antara manusia.

“Kami ingin menghadirkan pengalaman menonton yang sederhana namun membekas. Penonton akan melihat bagaimana sebuah tempat bisa menjadi sangat berarti ketika di dalamnya terdapat cinta, kenangan, dan orang-orang yang saling menjaga,” tutur Dyan.

Sejumlah pemain yang terlibat dalam film ini meliputi Ayushita, Sonny Septian, Fairuz A. Rafiq, dan M. Adhiyat. Karakter Abah Jatnika serta para penghuni rumah yatim menjadi elemen penting dalam penggambaran nilai kebersamaan tersebut.

Pesan Film Diperluas Lewat Kegiatan Sosial

Tim produksi juga menyiapkan kampanye sosial yang akan menyambangi 11 kota di Indonesia. Kegiatan itu dirancang untuk berbagi perhatian, kasih sayang, dan harapan bersama anak-anak yatim.

Elma Theana menyatakan program tersebut dimaksudkan agar pesan film tidak berhenti di layar lebar. Informasi mengenai rencana penayangan dan kegiatan sosial ini turut disampaikan Liputan6.

Melalui konflik perebutan lahan, film ini mengarahkan perhatian pada arti rumah yang tidak hanya ditentukan oleh bentuk bangunannya. Rumah digambarkan sebagai ruang yang dibangun oleh orang-orang yang memilih saling menjaga.

Source: www.liputan6.com
Berita Terkait