Sesar Lembang kembali menjadi perhatian karena patahan aktif ini dipetakan memiliki tiga segmen dengan karakter yang berbeda. Dari hasil kajian, wilayah utara Bandung itu menyimpan potensi guncangan besar yang dapat mencapai magnitudo 6,5 hingga 7.
Peta risiko tersebut penting karena jalur patahan melintas dekat kawasan pemukiman padat. Artinya, ancaman di Bandung Raya tidak hanya terkait kekuatan gempa, tetapi juga kedekatan sumber bahaya dengan area yang banyak dihuni warga.
Tiga segmen dengan karakter berbeda
Kajian terbaru membagi Sesar Lembang menjadi segmen barat, tengah, dan timur. Pembagian ini membantu menunjukkan bahwa struktur patahan tidak seragam di sepanjang jalurnya.
Pada segmen barat, patahan terlihat relatif tegak di permukaan. Namun, pada kedalaman yang lebih besar, arahnya cenderung miring ke selatan.
Segmen tengah juga menunjukkan patahan yang tegak di permukaan. Meski begitu, karakter geologinya berbeda dari segmen barat, sehingga memperkuat gambaran bahwa setiap bagian memiliki sifat struktur yang tidak sama.
Sementara itu, segmen timur memperlihatkan pola yang lebih kompleks. Data menunjukkan kemungkinan dua kemiringan, yakni miring ke utara dekat permukaan lalu menjadi lebih tegak pada kedalaman yang lebih dalam.
Survei terpadu untuk membaca patahan lebih detail
Kepala Pusat Survei Geologi Badan Geologi, Edy Slameto, menyampaikan bahwa survei geologi dan geofisika terpadu dilakukan pada akhir 2025 untuk memahami karakter Sesar Lembang lebih mendalam. Pendekatan ini menggabungkan penginderaan jauh, survei lapangan, dan analisis bawah permukaan.
Sejumlah metode digunakan dalam pemetaan tersebut, mulai dari Ground Penetrating Radar atau GPR, geolistrik, geomagnetik detail, hingga metode geofisika dalam seperti gravity dan pemantauan gempa mikro. Seluruh metode itu dipakai agar struktur patahan dapat dipetakan dengan lebih akurat.
Fokus utama kajian ini adalah menyusun gambaran yang lebih rinci tentang Sesar Lembang. Dengan begitu, strategi mitigasi di wilayah terdampak bisa disusun lebih efektif.
Bahaya yang tidak berhenti pada guncangan
Ancaman dari Sesar Lembang tidak hanya datang saat gempa utama terjadi. Para peneliti juga menyoroti gerakan tanah dan retakan permukaan yang dapat memperparah kondisi di lapangan.
Karakter bahaya itu dinilai mirip dengan wilayah sekitar Sesar Cugenang yang memicu gempa Cianjur pada 2022. Kesamaan utama terletak pada kondisi geologi, karena daerah tersebut tersusun dari material rombakan gunung api muda yang relatif rapuh.
Kerentanan bangunan ikut menentukan besar kecilnya dampak bencana. Jika bangunan tidak tahan gempa dan upaya mitigasi masih minim, risiko korban dan kerusakan dapat meningkat tajam saat gempa terjadi.
Karena itu, Badan Geologi menekankan pentingnya pengurangan risiko bencana di sekitar Sesar Lembang. Peningkatan mitigasi gempa dan kesadaran masyarakat terhadap bahaya geologi di Bandung Raya dinilai menjadi langkah yang mendesak.
