Warga Jawa Tengah diminta tidak menunggu gejala memburuk untuk memeriksakan diri jika mengalami tanda-tanda yang mengarah ke hantavirus. Pemerintah provinsi sudah menyiagakan 8 rumah sakit dan 883 puskesmas agar pemeriksaan dini bisa dilakukan lebih cepat bila ada temuan mencurigakan.
Kewaspadaan ini dipasang sejak awal meski sampai sekarang belum ada kasus hantavirus yang ditemukan di Jawa Tengah secara umum. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Zulfachmi Wahab, menekankan bahwa penanganan akan lebih efektif ketika penyakit dikenali sejak gejala awal.
Fasilitas kesehatan disiapkan untuk respons cepat
Delapan rumah sakit yang masuk daftar siaga mencakup RS dr Adhyatma MPH Semarang, RS Prof Dr Margono Purwokerto, dan RS Dr Moewardi Surakarta. Selain rumah sakit, 883 puskesmas juga diposisikan sebagai jalur awal agar warga bisa segera mendapat pemeriksaan.
Pemerintah provinsi turut menyiapkan sarana dan prasarana kesehatan untuk memperkuat penanganan jika kasus benar-benar ditemukan. Langkah ini dibuat agar layanan medis tidak terlambat merespons situasi di lapangan.
Tenaga kesehatan ikut diperkuat
Kesiapsiagaan tidak hanya difokuskan pada fasilitas, tetapi juga pada tenaga kesehatan. Pemerintah daerah menjalankan edukasi agar deteksi dini dan penanganan pasien bisa dilakukan lebih cepat di berbagai daerah.
Salah satu program yang dipakai adalah Jumat Pintar untuk meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan terkait hantavirus. Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kewaspadaan di fasilitas layanan kesehatan.
Zulfachmi juga menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada vaksin untuk hantavirus. Karena itu, pengenalan gejala sejak awal menjadi langkah penting untuk menekan risiko kematian dan mencegah kondisi berkembang lebih berat.
Temuan di Demak menjadi perhatian
Meski belum ada kasus secara umum di Jawa Tengah, Dinas Kesehatan mencatat 50 kasus pada periode 2023-2025 di Pelabuhan Kabupaten Demak. Data itu ikut mendorong penguatan kesiapsiagaan di sektor kesehatan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa hantavirus tetap perlu diwaspadai, terutama di wilayah yang memiliki potensi kontak dengan hewan pengerat. Pemerintah menilai ancamannya tidak secepat Covid-19, tetapi tetap membutuhkan kewaspadaan.
Gejala awal yang perlu dikenali
Hantavirus menular dari hewan pengerat, terutama tikus, ke manusia. Penularan dapat terjadi melalui air liur, urine, dan kotoran tikus yang terinfeksi, termasuk saat partikel yang sudah mengering terhirup atau saat terjadi kontak langsung.
Masyarakat diminta segera memeriksakan diri jika mengalami demam, nyeri dada, nyeri perut, gangguan buang air kecil, atau bercak merah pada selaput mata. Dalam kondisi berat, penyakit ini dapat memicu perdarahan dan gagal ginjal.
Zulfachmi mengimbau warga menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti pada masa pandemi Covid-19. Pemeriksaan dini tetap menjadi langkah utama agar hantavirus bisa ditangani lebih cepat dan risiko komplikasi dapat dikurangi.
Source: mediaindonesia.com