Ancaman pemutusan hubungan kerja mulai membayangi sedikitnya lima sektor industri yang dinilai KSPI sedang berada di bawah tekanan biaya dan permintaan. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia menyebut tanda-tanda itu muncul dari diskusi efisiensi di sejumlah perusahaan yang mulai mengarah pada pengurangan tenaga kerja.
Sektor yang paling dikhawatirkan adalah tekstil dan produk tekstil atau TPT. Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan risiko di industri ini mencakup produksi benang, kain, polyester, dan berbagai turunannya yang selama ini menyerap banyak pekerja.
Menurut KSPI, laporan soal situasi di pabrik-pabrik TPT datang dari anggota serikat pekerja. Tekanan di sektor ini dianggap serius karena pembahasan efisiensi tidak lagi berhenti di biaya operasional, tetapi mulai dikaitkan dengan potensi pengurangan buruh.
Said Iqbal menilai kondisi tersebut bukan sekadar kekhawatiran tanpa dasar. Ia menyebut informasi yang diterima KSPI berasal dari serikat pekerja di perusahaan-perusahaan terkait, terutama di industri tekstil dan produk turunannya.
Di luar TPT, industri plastik juga masuk daftar yang dipandang rawan. Beban di sektor ini datang dari naiknya harga bahan baku impor seperti polimer dan petrokimia, sementara nilai rupiah melemah terhadap dolar AS.
Pola bisnis industri plastik membuat tekanan itu terasa lebih berat. Bahan baku dibeli dengan dolar, sedangkan produk dijual di pasar domestik dengan rupiah yang sedang tertekan.
Akibatnya, harga plastik ikut naik dan margin perusahaan tergerus. Pada saat yang sama, permintaan dari konsumen juga disebut melemah dan mulai terasa hingga ke pedagang kecil di pasar tradisional.
Tekanan di industri plastik tidak berhenti di pabrik pembuat bahan baku atau produk jadi. Said Iqbal menilai dampaknya dapat menjalar ke industri elektronik dan otomotif yang banyak memakai komponen berbahan plastik.
Ia mencontohkan frame perangkat elektronik dan spakbor kendaraan sebagai bagian yang bisa ikut terdampak. Jika biaya bahan plastik terus tinggi, penyesuaian tenaga kerja di dua sektor itu juga dinilai berisiko terjadi.
Rantai pasok yang saling terhubung membuat gejolak di satu sektor cepat dirasakan oleh sektor lain. Karena itu, KSPI melihat ancaman PHK tidak hanya terpusat pada industri plastik, tetapi juga pada industri pengguna komponennya.
Sektor semen pun ikut menjadi perhatian. Menurut KSPI, ancaman di industri ini berkaitan dengan kelebihan pasokan atau oversupply yang bertemu dengan permintaan pasar yang melemah.
Said Iqbal menyoroti adanya pabrik baru yang mulai beroperasi di tengah situasi perang global. Ia menilai kondisi itu menambah tekanan pada pasar semen dan mendorong perusahaan mencari cara efisiensi.
Dalam pandangan KSPI, kombinasi antara kapasitas produksi yang bertambah dan permintaan yang tidak kuat membuat risiko pengurangan buruh makin nyata. Situasi itu dipandang dapat berujung pada penyesuaian tenaga kerja di sejumlah pabrik semen.
KSPI juga menunggu respons pemerintah atas ancaman PHK yang disebut mulai terlihat di lima sektor tersebut. Hingga kini, organisasi buruh itu menyebut belum ada agenda pertemuan untuk membahas solusi atas tekanan tenaga kerja.
Bagi KSPI, tekanan biaya, lemahnya permintaan, dan situasi geopolitik dapat memicu gelombang PHK yang lebih besar dalam waktu dekat. Organisasi ini menilai langkah penanganan perlu segera disiapkan sebelum pengurangan karyawan meluas ke lebih banyak perusahaan.







