AS Dan Iran Saling Serang Di Selat Hormuz, Kedua Pihak Klaim Lawan Lebih Dulu Memicu Bentrokan

Author: Redaksi Android62

Selat Hormuz kembali berada di pusat perhatian setelah Amerika Serikat dan Iran saling menuduh menjadi pihak yang lebih dulu memicu bentrokan. Di tengah klaim serangan rudal, drone, hingga pembalasan udara, masing-masing pihak mempertahankan versi sendiri tentang apa yang terjadi di jalur laut strategis itu.

Komando Pusat Militer AS atau Centcom menyebut Iran mengirim rudal, drone, dan kapal-kapal kecil ke arah kapal perusak Angkatan Laut AS yang sedang melintas. Dalam pernyataannya, Centcom mengatakan ancaman itu berhasil dihancurkan sebelum mencapai sasaran.

Setelah itu, Centcom menyatakan pihaknya menyerang fasilitas militer Iran yang diduga terkait serangan tersebut. Target yang disebut mencakup lokasi peluncuran rudal dan drone, serta pusat komando dan pengawasan.

Pihak AS menegaskan mereka tidak menginginkan eskalasi, tetapi tetap siap melindungi pasukannya. Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga ikut menguatkan versi itu melalui Truth Social dengan menyebut AS menghancurkan sejumlah kapal kecil Iran dan menimbulkan “kerusakan besar” terhadap pihak penyerang.

Iran membalas dengan tuduhan serupa

Teheran langsung menolak narasi Washington dan justru menuduh AS lebih dulu menyerang. Komando militer tertinggi Iran menyebut AS menyerang kapal tanker minyak Iran dan satu kapal lain yang mendekati Selat Hormuz.

Iran juga mengatakan serangan udara AS menghantam Bandar Khamir, Sirik, dan Pulau Qeshm. Setelah itu, Teheran mengklaim membalas dengan menyerang kapal militer AS dan menyebabkan “kerusakan signifikan”.

Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan adanya ledakan di Selat Hormuz yang disebut sebagai “baku tembak” dengan pihak musuh. Media lokal juga menyebut suara ledakan terdengar di Teheran.

Kawasan sekitar ikut siaga

Ketegangan ini tidak berhenti pada dua negara tersebut. Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab pada Jumat (8/5/2026) dini hari mengatakan sistem pertahanan udaranya menghadapi serangan rudal dan drone dari Iran.

Di sisi lain, sumber Israel kepada BBC menyatakan tidak ada keterlibatan Israel dalam serangan terbaru itu. Klarifikasi ini penting karena setiap lonjakan konflik di kawasan sering dikaitkan dengan peran Israel.

Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai jalur yang sangat strategis bagi perdagangan energi global. Karena itu, setiap bentrokan di wilayah ini cepat memunculkan kekhawatiran akan gangguan yang lebih luas.

Diplomasi masih berjalan di tengah ancaman

Di saat ketegangan meningkat, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Sehari sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan masih mempertimbangkan proposal AS untuk mengakhiri perang.

Juru bicara kementerian itu pada Rabu (6/5/2026) mengatakan Teheran akan menyampaikan pandangannya melalui mediator dari Pakistan. Pada saat yang sama, media AS Axios melaporkan Gedung Putih sedang mendekati kesepakatan memorandum 14 poin dengan Iran sebagai kerangka lanjutan negosiasi nuklir.

Menteri Luar Negeri Pakistan mengatakan negaranya berupaya mengubah gencatan senjata menjadi akhir permanen perang. Namun, nada dari Teheran tetap keras.

Anggota senior parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menyebut memorandum itu hanya “daftar keinginan” dan melalui platform X memperingatkan Iran siap memberi respons keras bila AS tidak memenuhi syarat yang diminta. Trump sebelumnya juga mengatakan operasi militer gabungan AS-Israel di Iran akan dihentikan jika Iran menyetujui poin-poin yang telah dibahas dalam negosiasi.

Klaim Trump bahwa Iran setuju untuk tidak memiliki senjata nuklir belum dikonfirmasi pemerintah Teheran. Dengan saling tuding yang masih terus berlangsung, situasi di Selat Hormuz tetap rentan memanas.

Source: www.beritasatu.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru