Pemprov Jawa Barat memilih tidak tergesa menyematkan status darurat sampah untuk Kota Bandung. Dedi Mulyadi menilai yang paling penting justru memastikan langkah penanganan di lapangan berjalan lebih dulu agar situasi tidak berubah menjadi kepanikan.
Sikap itu muncul di tengah tekanan besar yang masih membebani Bandung. Lonjakan volume sampah setelah libur panjang membuat persoalan semakin terasa, sementara ketergantungan kota ini pada TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat ikut memperkuat dorongan dari jajaran Pemkot Bandung agar status darurat segera ditetapkan.
Fokus diarahkan ke penanganan langsung
Dedi menekankan bahwa label darurat tidak boleh menjadi langkah yang hanya berhenti di atas kertas. Ia meminta agar solusi operasional benar-benar disiapkan dan dijalankan lebih dulu sebelum status itu diputuskan.
Menurut dia, penanganan sampah harus bergerak di lapangan agar manfaatnya langsung dirasakan warga. Dalam pandangannya, keputusan yang terlalu buru-buru justru berisiko memunculkan kepanikan di tengah masyarakat.
Sarimukti makin kritis
Di sisi lain, kondisi TPA Sarimukti disebut semakin mengkhawatirkan. Dedi menyampaikan kapasitas TPA regional itu diperkirakan sudah akan penuh dalam hitungan bulan ke depan.
Situasi tersebut membuat Bandung berada dalam tekanan tambahan karena selama ini masih bergantung pada fasilitas pembuangan bersama itu. Ketika kapasitas makin terbatas, opsi penanganan cepat di wilayah kota menjadi semakin mendesak.
Teknologi pengolahan disiapkan per wilayah
Sebagai antisipasi, Pemprov Jawa Barat menyiapkan sistem pengolahan sampah berbasis wilayah yang akan ditempatkan di tiap kelurahan. Skema ini dipilih untuk membantu mengurangi beban dari hulu sebelum sampah menumpuk di titik pembuangan akhir.
Dedi mengatakan alat itu sudah diuji coba dan mampu mengolah sampah hingga 5 ton per hari. Hasil pengolahannya disebut bisa diubah menjadi bahan bakar alternatif untuk industri.
Uji coba sudah berjalan
Dedi juga menyebut uji coba di Gedung Sate telah berhasil. Dari hasil itu, produk olahan sampah tersebut mulai menarik perhatian sejumlah industri di Jawa Barat.
Pemprov Jabar berencana memperluas penerapan teknologi itu ke berbagai daerah, termasuk Kota Bandung. Namun, pelaksanaannya tidak bisa ditangani provinsi sendirian karena pembiayaan perlu dibicarakan bersama wali kota.
Pembiayaan jadi pembahasan berikutnya
Menurut Dedi, kerja sama dengan Pemerintah Kota Bandung menjadi penting agar program ini bisa berjalan. Ia menegaskan, provinsi tidak mungkin menanggung seluruh biaya sendiri sehingga perlu ada pembahasan lanjutan mengenai pembagian peran dan implementasi.
Di tengah itu, Bandung tetap menghadapi beban nyata akibat lonjakan sampah setelah masa libur panjang. Kondisi tersebut membuat pengelolaan darurat harus disiapkan secara operasional, bukan hanya lewat penetapan status.
Tekanan sampah masih memaksa solusi cepat
Pemprov Jawa Barat melihat pendekatan berbasis kelurahan sebagai salah satu jawaban awal. Dengan cara itu, pengurangan sampah dapat dimulai dari wilayah terdekat dengan sumber timbunan, bukan menunggu masalah menumpuk di tempat pembuangan akhir.
Di saat yang sama, berbagai persoalan lain juga muncul di Jawa Barat. Di Jembatan Cirahong, perbatasan Ciamis dan Tasikmalaya, seorang pria berinisial M, 30 tahun, sempat membuat heboh warga karena diduga hendak melompat dari jembatan sebelum akhirnya diselamatkan sekitar 10 orang warga.
Kapolsek Manonjaya AKP Soni Alamsyah mengatakan M bekerja sebagai penjual cilok, sudah berkeluarga, dan tinggal di sekitar Kecamatan Manonjaya. Motif kejadian disebut berkaitan dengan masalah ekonomi yang dipicu konsumsi alkohol, setelah M pulang dalam keadaan mabuk berat, bertengkar dengan istrinya, merusak barang-barang di rumah, lalu pergi ke jembatan.
Di Sumedang, korban tertimpa pohon tumbang di Jalan Raya Bandung-Cirebon, Desa Cikeruh, Jatinangor, juga dilaporkan meninggal dunia setelah sempat dirawat dalam kondisi kritis di Rumah Sakit Unpad. Korban bernama Reza Renaldi mengalami luka parah di bagian kepala dan pinggang setelah pohon flamboyan yang diduga rapuh menimpa lima pengendara motor.
Sementara itu, di Karawang, ratusan ikan ditemukan mati mengambang di perairan Tanggul Johar, Karawang Wetan. DLH Karawang sudah mengambil sampel air dan ikan untuk diuji laboratorium, sedangkan warga diminta tidak mengonsumsi ikan yang mati karena dikhawatirkan terpapar zat berbahaya.
Di Kota Bandung, Wali Kota Muhammad Farhan juga menyoroti persoalan kabel udara saat meninjau pemotongan kabel di Jalan Merdeka. Ia menyebut dari 39 perusahaan telekomunikasi, baru 18 yang siap mendukung proyek ducting, sementara 21 lainnya belum siap, sehingga pemotongan kabel tidak boleh dilakukan jika backup internet belum tersedia.
Source: www.detik.com