Bank Jatim Catat Laba Rp1,546 Triliun, Khofifah Sebut Tertinggi di Antara BPD Se-Indonesia

Author: Redaksi Android62

Bank Jatim mencatat laba bersih bank only Rp1,546 triliun dalam Tahun Buku 2025, dan capaian itu disebut sebagai yang tertinggi di antara seluruh BPD di Indonesia. Angka tersebut menjadi sorotan karena muncul bersamaan dengan pertumbuhan aset, kredit, dana pihak ketiga, dan pendapatan yang sama-sama bergerak naik.

Khofifah Indar Parawansa menilai hasil itu bukan sekadar angka akuntansi. Dalam pandangannya, capaian tersebut menunjukkan fungsi intermediasi Bank Jatim berjalan baik karena ekspansi usaha tetap diikuti kualitas yang kuat.

Di RUPS Tahunan Tahun Buku 2025 di Kantor Pusat Bank Jatim, sejumlah indikator kinerja memang menunjukkan penguatan. Aset konsolidasi naik dari Rp118,14 triliun menjadi Rp168,85 triliun, kredit meningkat dari Rp75,35 triliun menjadi Rp110,50 triliun, dan Dana Pihak Ketiga bertambah dari Rp90,01 triliun menjadi Rp127,24 triliun.

Kenaikan juga terlihat pada sisi pendapatan dan laba. Pendapatan bunga naik dari Rp8,28 triliun menjadi Rp10,16 triliun, pendapatan bunga bersih dari Rp5,62 triliun menjadi Rp7,08 triliun, dan laba bersih konsolidasi dari Rp1,29 triliun menjadi Rp1,61 triliun.

Khofifah menyebut capaian itu sebagai tanda pertumbuhan yang ditopang kualitas pendapatan dan ketahanan bisnis. Ia menilai Bank Jatim berhasil menjaga momentum secara konsisten di tengah persaingan industri perbankan yang semakin ketat.

Dividen ikut naik

Dalam forum yang sama, Bank Jatim juga memutuskan pembagian dividen sebesar Rp56,62 per lembar saham. Nilai itu lebih tinggi dibanding dividen tahun sebelumnya yang berada di level Rp54,71 per lembar saham.

Total dividen yang dibagikan kepada pemegang saham mencapai Rp850.177.501.402,84. Jumlah itu setara 55 persen dari laba bersih Tahun Buku 2025.

Sebagai pemegang saham pengendali, Khofifah meminta Bank Jatim memperkuat posisinya sebagai regional champion. Ia juga mendorong penguatan Kelompok Usaha Bank melalui sinergi bisnis, optimalisasi potensi produk syariah, percepatan transformasi digital lewat Jconnect, dan peningkatan pembiayaan sektor produktif, terutama UMKM.

Ia menekankan pentingnya tata kelola dan manajemen risiko yang kuat. Khofifah juga meminta jajaran Komisaris, Direksi, dan insan Bank Jatim menjaga semangat kolaboratif serta integritas dalam membangun institusi yang lebih kuat.

Peran bagi ekonomi daerah

Khofifah menempatkan Bank Jatim bukan hanya sebagai lembaga intermediasi, tetapi juga motor penggerak ekonomi daerah. Bank daerah itu dinilai punya peran langsung dalam mengalirkan likuiditas, memperkuat sektor riil, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Ia juga menyoroti posisi Bank Jatim dalam arsitektur ekonomi nasional. Bank Jatim menaungi lima anggota KUB, yakni NTB Syariah, NTT, Sulawesi Tenggara, Lampung, dan Banten, serta menjadi BPD dengan jumlah anggota KUB terbanyak di antara sesama BPD.

Menurut Khofifah, dukungan sistem keuangan daerah harus kuat dan adaptif agar bisa menjembatani kebutuhan pembiayaan pembangunan dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Dalam kerangka itu, Bank Jatim dianggap memegang peran penting sebagai penghubung antara kekuatan fiskal daerah dan sektor riil.

Capaian Bank Jatim juga dikaitkan Khofifah dengan kinerja ekonomi Jawa Timur. Pada tahun 2025, Jawa Timur menjadi penyumbang perekonomian terbesar kedua nasional dengan kontribusi 14,40 persen terhadap PDB Indonesia dan 25,29 persen terhadap Pulau Jawa.

Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada tahun 2025 tercatat 5,85 persen year on year, lebih tinggi dari nasional yang sebesar 5,39 persen year on year. Per 5 Mei, rilis pertumbuhan ekonomi Jawa Timur triwulan pertama year on year juga disebut mencapai 5,96 persen dan menjadi yang tertinggi di antara seluruh provinsi di Pulau Jawa.

Khofifah menilai capaian itu ditopang struktur ekonomi yang kuat, terutama sektor industri, perdagangan, dan pertanian. Ia juga menyebut sinergi bupati, wali kota, pengusaha, dan buruh industri ikut memberi kontribusi besar terhadap penguatan ekonomi daerah.

Dorongan ke pembiayaan produktif

Khofifah menekankan pentingnya penyaluran pembiayaan yang tepat sasaran, termasuk dukungan terhadap penurunan bunga KUR menjadi 5,99 persen. Ia meminta kepala cabang Bank Jatim di berbagai daerah merespons kebijakan itu dengan cepat agar pelaku usaha kecil dan mikro mendapat stimulus yang lebih produktif.

Ia menyebut 5,99 persen sebagai kabar baik dan harapan baru bagi pelaku usaha kecil. Karena itu, Bank Jatim didorong lebih proaktif dalam menjawab visi strategis pemerintah.

Khofifah juga meminta Bank Jatim menguatkan digital mindset, bukan hanya digitalisasi layanan. Transformasi itu, menurutnya, harus menyentuh cara berpikir, cara bekerja, dan cara mengambil keputusan agar lebih adaptif terhadap perubahan zaman.

Ia mengingatkan bahwa tantangan perbankan akan semakin kompleks. Persaingan tidak hanya datang dari bank lain, tetapi juga dari fintech dan platform digital, sementara perubahan perilaku nasabah serta risiko siber dan reputasi menuntut kesiapan yang lebih tinggi.

Khofifah berharap Bank Jatim terus tumbuh sebagai institusi yang sehat secara finansial dan kuat secara sosial. Ia ingin bank daerah itu tetap hadir di tengah masyarakat dan memberi kontribusi nyata bagi pembangunan Jawa Timur.

Source: detak.co
Berita Terbaru