Baru 0,4 Persen Dimanfaatkan, Jalan Panjang Indonesia Meraih Kemandirian EBT

Author: Redaksi Android62

Pemanfaatan energi baru terbarukan di Indonesia masih sangat kecil dibandingkan potensi yang tersedia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat total potensi EBT nasional mencapai 3.687 gigawatt, tetapi yang baru dimanfaatkan di sektor ketenagalistrikan sekitar 0,4 persen atau setara 15,6 gigawatt.

Kesenjangan itu menunjukkan ruang pengembangan energi bersih di Tanah Air masih sangat besar. Di saat kebutuhan listrik terus berkembang, percepatan pemanfaatan sumber energi yang lebih bersih menjadi salah satu pekerjaan utama dalam transisi energi nasional.

Fokus pemerintah mulai diarahkan ke energi surya

Di tengah masih rendahnya pemanfaatan EBT, pemerintah menempatkan energi surya sebagai salah satu prioritas. Pengembangannya mencakup Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS atap, serta sistem listrik luar jaringan atau off-grid.

Model ini dinilai penting karena dapat menjangkau kebutuhan listrik di lebih banyak wilayah. Dengan pendekatan yang lebih fleksibel, energi surya tidak hanya memperluas akses listrik bersih, tetapi juga membantu diversifikasi sumber energi nasional.

Target besar yang ingin dikejar

Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Ahmad Amiruddin, menegaskan bahwa percepatan EBT perlu dilakukan secara masif dalam 10 tahun ke depan. Ia juga mengaitkan arah tersebut dengan mandat Presiden Prabowo yang menargetkan pembangunan PLTS sebesar 100 GW.

“Sebagaimana arahan Bapak Presiden, pembangunan energi baru terbarukan harus dipercepat secara masif dalam 10 tahun ke depan,” ujar Ahmad di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Menurut Ahmad, energi surya menjadi salah satu pilar penting dalam visi Astacita yang menekankan swasembada energi dan kemandirian bangsa. Karena itu, PLTS tidak dipandang hanya sebagai proyek ketenagalistrikan, tetapi juga bagian dari strategi energi jangka panjang.

Dampaknya tidak hanya ke listrik, tetapi juga industri

Peningkatan pemanfaatan EBT dipandang penting bukan semata untuk memperbesar bauran energi nasional. Pemerintah juga menilai listrik yang lebih stabil dan berkelanjutan akan mendukung daya saing industri dalam proses produksi.

Di sisi lain, pengembangan energi surya diharapkan bisa mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil secara bertahap. Arah ini dianggap sejalan dengan kebutuhan sistem energi yang lebih efisien, tangguh, dan mendukung pembangunan hijau.

Tantangan masih ada di level implementasi

Meski potensi yang dimiliki sangat besar, Indonesia masih menghadapi hambatan pada kecepatan pelaksanaan, kesiapan infrastruktur, dan konsistensi kebijakan. Tiga hal itu menjadi penentu apakah potensi 3.687 GW benar-benar bisa masuk ke sistem kelistrikan nasional atau tetap berhenti sebagai angka di atas kertas.

Karena itu, pemerintah menilai PLTS atap dan sistem off-grid perlu terus didorong sebagai bagian dari strategi percepatan. Jika langkah tersebut berjalan sesuai arah kebijakan, pemanfaatan EBT berpeluang tumbuh lebih cepat dan memberi kontribusi yang lebih besar bagi kemandirian energi Indonesia.

Berita Terbaru