BBCA dan BMRI kembali masuk radar utama pelaku pasar saat IHSG masih diperkirakan bergerak naik terbatas pada perdagangan Sabtu, 2 Mei 2026. Dua saham perbankan besar itu dinilai menjadi penopang penting karena minat terhadap saham berkapitalisasi besar mulai pulih dan aliran dana asing ikut kembali mengarah ke emiten yang likuid.
Fokus investor kini tertuju pada saham-saham yang punya pengaruh besar terhadap indeks. Dalam kondisi seperti ini, sektor perbankan kembali memegang peran sentral, terutama setelah laporan keuangan kuartal I 2026 menunjukkan pertumbuhan laba bersih di sektor perbankan dan energi.
Secara teknikal, IHSG masih punya ruang untuk melanjutkan penguatan selama mampu bertahan di atas level 7.200. Posisi itu dianggap penting karena menandakan tren naik masih terjaga, meski pasar tetap bergerak dalam fluktuasi yang wajar.
Kembalinya minat pada big caps juga membuat saham-saham pilihan semakin diperhatikan untuk kebutuhan perdagangan harian maupun akumulasi jangka menengah. BBCA menjadi salah satu nama yang paling menonjol karena mendapat rekomendasi beli dengan target harga terdekat di level akumulasi setelah rilis laba kuartal I.
BMRI tidak kalah menarik karena menunjukkan tren kenaikan volume beli yang konsisten dalam tiga hari perdagangan terakhir. Kondisi ini membuat saham bank pelat merah tersebut tetap berada dalam pantauan pelaku pasar yang mencari saham dengan likuiditas tinggi dan dampak besar terhadap pergerakan indeks.
Sektor penggerak masih didominasi bank, infrastruktur, dan telekomunikasi
Selain perbankan, sektor infrastruktur dan telekomunikasi juga diperkirakan tetap menjadi penggerak utama indeks. Bareksa mencatat saham seperti EXCL dan JSMR kerap menunjukkan ketahanan saat pasar mengalami koreksi sehat, sehingga keduanya masih dianggap relevan untuk dicermati.
TLKM ikut masuk daftar saham yang dilirik karena ekspansi infrastruktur digital nasional masih menjadi katalis yang mendukung sentimen. Di sisi lain, ASII juga mendapat perhatian karena pemulihan data penjualan otomotif secara bulanan memberi ruang sentimen positif tambahan.
Dari sisi domestik, kepercayaan investor masih ditopang oleh data historis yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 mencapai 5,05 persen. Angka itu berada sedikit di atas prediksi IMF sebesar 5 persen dan ikut memperkuat pandangan bahwa fundamental dalam negeri masih cukup solid.
Sentimen global belum hilang, tetapi tekanannya mulai lebih ringan
Arah IHSG tetap dipengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral luar negeri. Pada awal 2024, Bank Sentral Australia mempertahankan suku bunga di 4,35 persen, sementara The Fed menahan suku bunga acuan di kisaran 5,25 persen hingga 5,5 persen.
Stabilitas kebijakan moneter yang mulai terbentuk pada 2026 memberi ruang yang lebih lega bagi pasar saham domestik. Di saat yang sama, peningkatan target pertumbuhan ekonomi global oleh IMF untuk negara mitra dagang utama seperti China dan Amerika Serikat ikut membantu menjaga sentimen pasar.
Purbaya Yudhi Sadewa, Ketua Dewan Komisioner LPS, menilai stabilitas sistem keuangan serta pertumbuhan ekonomi yang konsisten di atas 5 persen menjadi katalis positif bagi pasar modal. Pandangan itu sejalan dengan ekspektasi bahwa likuiditas pasar modal dapat tetap terjaga hingga kuartal kedua tahun ini.
Menjelang pembukaan perdagangan berikutnya, pelaku pasar masih menunggu data inflasi domestik bulan April yang akan dirilis Badan Pusat Statistik pada awal pekan depan. Data tersebut akan menjadi petunjuk tambahan bagi arah IHSG setelah indeks dan LQ45 sama-sama ditutup menguat pada sesi sebelumnya.
