Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, Malang, kini memegang peran besar dalam penguatan genetika ternak nasional. Lembaga ini disebut mampu memenuhi sekitar 70 persen kebutuhan semen beku unggul di Indonesia dan menjadi salah satu penopang utama program inseminasi buatan.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai kapasitas itu sangat penting bagi percepatan swasembada daging. Ia menyebut teknologi reproduksi yang dikembangkan BBIB bukan hanya berdampak bagi peternakan Jawa Timur, tetapi juga bisa mendorong produktivitas di banyak daerah.
Stok besar dan pejantan unggul
Kepala BBIB Singosari Akbar menjelaskan, hingga semester pertama 2026 lembaganya telah memproduksi 895.559 dosis semen beku. Total stok yang tersedia saat ini mencapai sekitar 4,7 juta dosis dan dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan program inseminasi buatan nasional dalam beberapa tahun ke depan.
BBIB Singosari juga memiliki 192 pejantan unggul dari berbagai rumpun sapi potong, sapi perah, kambing, dan domba. Di dalamnya terdapat Belgian Blue, Wagyu, Limousin, Simmental, Angus, Brahman, sapi Bali, sapi Madura, Peranakan Ongole, hingga Friesian Holstein.
| Data Utama BBIB Singosari | Informasi |
|---|---|
| Produksi semester pertama 2026 | 895.559 dosis semen beku |
| Total stok | sekitar 4,7 juta dosis |
| Pejantan unggul | 192 ekor |
| Peran nasional | sekitar 70 persen kebutuhan semen beku unggul |
Wagyu dan Belgian Blue jadi perhatian
Saat meninjau BBIB Singosari di Kabupaten Malang, Khofifah melihat langsung sejumlah sapi unggulan, termasuk Belgian Blue yang pernah diperkenalkan Dubes Belgia pada 2018 di Surabaya. Ia juga mengingat pengalaman menjelang Idul Adha ketika bertemu peternak sapi dari Mojokerto dan akhirnya membeli Belgian Blue.
Menurut Khofifah, pengembangan semen beku Belgian Blue sudah mulai dimanfaatkan peternak di Mojokerto, Situbondo, Bondowoso, dan Jember. Ia menilai praktik itu masih bisa diperluas ke daerah lain, termasuk untuk kemungkinan kawin silang Belgian Blue.
Untuk jenis Wagyu, BBIB Singosari disebut telah memiliki semen beku dalam jumlah sangat banyak. Khofifah menegaskan, perlakuan pada sapi Wagyu membutuhkan proses ekstra agar kualitas dagingnya mendekati standar Jepang.
Ia juga menyoroti harga daging Wagyu di restoran dan hotel berbintang yang disebut berada di atas Rp 1 juta per kilogram. Karena itu, pengembangan Wagyu dinilai tidak murah dan tidak mudah, meski programnya sudah dimulai BBIB sekitar lima tahun lalu.
Ekspor dan target inseminasi buatan
Selain untuk kebutuhan domestik, BBIB Singosari juga telah mengekspor lebih dari 35 ribu dosis semen beku ke 11 negara. Negara tujuan tersebut meliputi Malaysia, Timor Leste, Kamboja, Nigeria, Afghanistan, Madagaskar, Myanmar, Tanzania, Zimbabwe, Ethiopia, dan Kyrgyzstan.
Khofifah mendorong agar potensi BBIB dimanfaatkan optimal oleh seluruh provinsi. Ia juga meminta daerah lain memakai fasilitas BBIB agar program inseminasi buatan bisa berjalan lebih luas dan lebih terarah.
Kolaborasi BBIB Singosari dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur turut diperkuat untuk mengejar target inseminasi buatan lebih dari satu juta akseptor sapi di Jawa Timur pada 2026. Khofifah tetap optimistis Indonesia mampu menuju swasembada daging dalam tiga tahun ke depan.
Menurutnya, fondasi untuk mencapai target itu sudah tersedia. Tantangannya kini adalah memperkuat sinergi antardaerah, mengoptimalkan inseminasi buatan, meningkatkan kualitas bibit ternak, dan memberi pendampingan berkelanjutan kepada peternak.
