Valuasi saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BBNI dinilai masih menarik karena berada di level price to book value sekitar 0,7 kali. KB Valbury Sekuritas menyebut posisi itu sudah berada di bawah minus dua standar deviasi, sehingga ruang masuk bagi investor jangka panjang dinilai terbuka lebar.
Di saat harga sahamnya tertekan, kinerja BBNI justru masih menunjukkan perbaikan yang solid. KB Valbury menilai pelemahan harga lebih banyak dipicu sentimen investor asing dan faktor domestik, bukan karena memburuknya kondisi bisnis perseroan.
Kinerja operasional tetap menguat
Selama lima bulan pertama 2026, BBNI membukukan laba bersih bank induk sebesar Rp9,05 triliun. Angka itu tumbuh 7,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan sejalan dengan proyeksi KB Valbury maupun konsensus pasar.
Dari sisi penyaluran kredit, bank pelat merah ini mencatat pertumbuhan 24,5 persen secara tahunan menjadi Rp940,88 triliun. Capaian tersebut bahkan melampaui target pertumbuhan kredit perseroan tahun ini yang berada pada kisaran 8-10 persen.
Ekspansi bisnis yang lebih cepat dari rencana manajemen itu menjadi salah satu alasan saham BBNI dinilai belum sepenuhnya mencerminkan fundamentalnya. KB Valbury tetap mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp4.720 per saham.
Pendanaan kuat dan kualitas aset terjaga
Di sisi pendanaan, BBNI juga menunjukkan struktur yang masih sehat. Dana pihak ketiga tumbuh 33,2 persen secara tahunan, sementara dana murah atau current account saving account (CASA) naik 26,8 persen.
Rasio CASA BBNI tercatat di level 68,3 persen, menandakan porsi dana berbiaya rendah masih dominan. Kondisi ini membantu bank menjaga efisiensi pendanaan di tengah pertumbuhan bisnis yang cepat.
KB Valbury juga mencatat cost of credit BBNI berada di level 0,9 persen. Posisi tersebut lebih baik dibandingkan target manajemen yang berada di kisaran 1,0-1,2 persen, sehingga kualitas aset dinilai tetap terjaga.
| Indikator | Angka | Keterangan |
|---|---|---|
| P/B | 0,7 kali | Di bawah minus dua standar deviasi |
| Laba bersih bank induk | Rp9,05 triliun | Tumbuh 7,1 persen |
| Kredit | Rp940,88 triliun | Tumbuh 24,5 persen |
| DPK | Naik 33,2 persen | Secara tahunan |
| CASA | Naik 26,8 persen | Rasio CASA 68,3 persen |
| Cost of credit | 0,9 persen | Di bawah panduan manajemen |
Risiko makro masih membayangi
Meski prospeknya dinilai menjanjikan, KB Valbury tetap mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati investor. Risiko tersebut mencakup perlambatan pertumbuhan kredit, kenaikan biaya dana, tekanan terhadap margin bunga bersih, dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Dengan kombinasi valuasi yang murah dan fundamental yang tetap kuat, BBNI berada dalam posisi yang menarik bagi investor yang mencari peluang jangka panjang. Namun arah sahamnya masih akan sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar dan kondisi makro yang berkembang.
