Kepastian pasar menjadi titik paling menentukan bagi masa depan kedelai lokal di Indonesia. Tanpa jaminan serapan hasil panen, petani dinilai cenderung memilih komoditas lain yang risikonya lebih kecil dan pemasarannya lebih jelas.
Situasi itu makin penting dibaca karena kebutuhan kedelai nasional mencapai sekitar 2,7 juta ton per tahun. Hampir 90 persen kebutuhan tersebut masih dipenuhi dari impor, sehingga ruang penguatan produksi dalam negeri menjadi agenda yang tidak bisa ditunda.
UGM dorong ekosistem dari hulu ke hilir
Universitas Gadjah Mada melalui program Smart Agricultural Enterprise atau SAE Kedelai mencoba menjawab masalah itu dengan pendekatan yang tidak berhenti pada produksi. Program ini dirancang untuk membangun sistem yang membuat kedelai lokal lebih layak secara teknis dan ekonomi.
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Atris Suyantohadi, menegaskan bahwa kemandirian kedelai tidak cukup dikejar dengan menambah luas tanam. Menurut dia, petani membutuhkan ekosistem yang menyambungkan budidaya, industri, dan pasar agar seluruh rantai usaha memiliki kepastian.
“Berbagai uji coba kami lakukan hingga memperoleh kesimpulan bahwa produktivitas, kualitas, dan kandungan protein kedelai lokal dapat ditingkatkan,” ujar Atris dalam siaran pers, Kamis (2/7/2026).
Serapan industri dan mutu benih jadi penopang
Dalam pendampingan di Grobogan, Bantul, Kulon Progo, Sukoharjo, dan Sragen, UGM menggandeng CV Java Agro Prima sebagai off-taker industri. Mitra ini menyerap hasil panen sekaligus memastikan produk memenuhi standar keamanan pangan.
Pendekatan tersebut membuat petani tidak berjalan sendiri, karena ada kepastian pasar yang terhubung langsung dengan standar mutu. UGM juga menempatkan kelompok penangkar benih sebagai bagian penting untuk memperbaiki kualitas secara bertahap.
Benih kedelai yang dihasilkan tim UGM disebut sudah memenuhi standar sertifikasi Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada 2026, kedelai hasil binaan itu juga berhasil memperoleh sertifikasi keamanan pangan.
| Aspek | Informasi | Keterangan |
|---|---|---|
| Program | Smart Agricultural Enterprise atau SAE Kedelai | Fokus pada produksi dan ekosistem usaha |
| Wilayah pendampingan | Grobogan, Bantul, Kulon Progo, Sukoharjo, Sragen | Lokasi implementasi pendampingan |
| Mitra industri | CV Java Agro Prima | Off-taker hasil panen dan penjaga standar keamanan pangan |
| Status mutu benih | Standar sertifikasi BPSB DI Yogyakarta | Sudah dinyatakan memenuhi standar |
Teknologi IoT ikut menjaga kualitas
UGM juga menerapkan teknologi Internet of Things atau IoT untuk memantau dan mengendalikan mutu benih secara real time. Langkah ini menunjukkan bahwa penguatan kedelai lokal tidak hanya bergantung pada varietas unggul, tetapi juga pada pengawasan kualitas yang konsisten.
Dengan pengawasan semacam itu, benih dan hasil panen dapat ditelusuri mutunya sejak awal hingga masuk ke pasar. Sistem ini penting agar kedelai lokal tidak kalah di titik yang sering menentukan, yakni standar dan kepercayaan pembeli.
Sejalan dengan dorongan pemerintah
Upaya UGM berada dalam arah yang sejalan dengan kebijakan Kementerian Pertanian untuk menekan impor kedelai. Menteri Pertanian Amran Sulaiman sebelumnya menyatakan komitmen pemerintah mendorong produksi kedelai lokal dan melihat varietas pengembangan UGM memiliki daya saing tersendiri.
Amran menyoroti dua keunggulan utama, yaitu status non-genetically modified organism atau non-GMO dan ukuran biji yang lebih besar dibanding kedelai impor. Pemerintah juga berencana mengawal uji coba pengembangan kedelai dan bawang putih di lahan seluas 1.000-2.000 hektare di Jawa Tengah sebagai langkah awal kolaborasi strategis.
Di sisi lain, UGM menekankan bahwa pengetahuan dan keterampilan petani sama pentingnya dengan dukungan benih dan pupuk. Tanpa kapasitas budidaya yang baik, hasil panen sulit mencapai nilai ekonomi yang optimal.
Atris menyebut hilirisasi riset ini merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sebagai kampus kerakyatan, UGM ingin menghadirkan solusi yang benar-benar dirasakan masyarakat melalui rangkaian kerja dari hulu sampai hilir.
