Kredit BCA terus bergerak di tengah pasar yang masih bergejolak. Hingga Maret 2026, penyaluran kredit perseroan tercatat mencapai Rp994 triliun, sementara bank tetap memilih menjaga sisi likuiditas dan eksposur valas secara ketat.
Pendekatan itu menunjukkan BCA tidak ingin terlalu agresif saat rupiah tertekan dan pasar keuangan bergerak liar. Di tengah volatilitas yang belum mereda, perseroan menempatkan kehati-hatian sebagai prioritas agar fungsi intermediasi tetap berjalan tanpa menambah tekanan pada neraca.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan pengelolaan dana dilakukan dengan mempertimbangkan fleksibilitas saat pasar obligasi dan nilai tukar berfluktuasi. Cadangan likuiditas sementara ditempatkan pada instrumen SBN dan pasar uang yang punya tingkat likuiditas baik.
BCA juga menata portofolio surat berharga tidak hanya dari sisi pergerakan imbal hasil, tetapi juga durasi. Langkah ini dipakai untuk menjaga kualitas likuiditas secara keseluruhan agar neraca tetap sehat ketika pasar bergerak tajam.
Di sisi lain, risiko mata uang asing turut dijaga tetap rendah. BCA memastikan net open position atau eksposur devisa neto berada pada level rendah agar ketahanan neraca tidak mudah terganggu saat rupiah melemah.
Hera menegaskan pengelolaan aset dan liabilitas terus dibuat seimbang, baik untuk rupiah maupun mata uang asing. Pola itu memberi ruang gerak bagi bank untuk tetap stabil ketika pasar sedang sensitif terhadap perubahan arah.
Kondisi pasar memang belum memberi banyak kenyamanan. Rupiah sempat menembus Rp17.000 per dolar AS dan bahkan menyentuh Rp17.445 per dolar AS, dengan pergerakan di kisaran Rp17.300–Rp17.400 sepanjang pekan ini.
Tekanan pada rupiah ikut merambat ke pasar SBN. Yield naik dan harga di pasar sekunder turun, dipengaruhi faktor domestik, arus modal global, arah suku bunga internasional, serta persepsi risiko investor terhadap aset rupiah.
Peneliti Center of Reform on Economics atau CORE Yusuf Rendy Manilet menilai hubungan rupiah dan SBN terlihat jelas dari perilaku investor asing. Saat rupiah melemah, obligasi pemerintah yang dipegang investor asing berpotensi memberi return yang turun dalam dolar, sehingga aset rupiah menjadi kurang menarik dibanding US Treasury.
Yusuf mencontohkan yield SBN 10 tahun masih berada di kisaran 6,7%. Namun, pelemahan rupiah dapat mengurangi daya tarik imbal hasil tersebut dan memicu arus keluar dana asing dari pasar SBN.
Jika arus keluar itu terjadi, tekanan ke rupiah bisa berulang dan membentuk siklus yang saling memperkuat. Karena itu, perbankan nasional dinilai makin penting sebagai penyangga utama pasar SBN.
Ia juga menyebut posisi bank domestik semakin relevan sejak SRBI diperluas dan pemerintah menempatkan dana di perbankan untuk menyerap obligasi. Dalam kondisi itu, bank-bank domestik terdorong menjadi anchor investor di pasar surat utang.
Di tengah situasi tersebut, likuiditas perbankan nasional masih relatif longgar dan pertumbuhan kredit belum terlalu agresif. Dana yang belum terserap ke kredit banyak dialihkan ke SBN dan instrumen moneter agar tetap produktif.
Meski begitu, porsi dana yang makin besar ke SBN membawa konsekuensi jangka menengah. Semakin besar alokasi itu, semakin besar pula potensi crowding out terhadap kredit sektor riil, walau dampaknya belum terasa saat ini karena permintaan kredit masih lemah.
Itulah sebabnya langkah bank besar seperti BCA menjadi penting bagi stabilitas sistem keuangan. Saat pasar sensitif terhadap rupiah, yield, dan arus modal global, fokus pada likuiditas, durasi portofolio, serta eksposur valas menjadi kunci agar intermediasi tetap berjalan dengan aman.
