Kenaikan harga oli sekitar 20 persen membuat banyak bengkel harus lebih hati-hati menjaga biaya. Di saat harga barang naik, sebagian pelaku usaha justru memilih menahan tarif servis agar pelanggan tidak menjauh.
Langkah itu dipilih karena beban bengkel tidak berhenti di oli saja. Harga spare part, chemicals, ban, baut, vanbelt, hingga komponen logam juga ikut naik dan menekan biaya operasional harian.
Pemilik bengkel Quick Service, Indra Kurniawan, mengatakan pihaknya masih berusaha menjaga loyalitas pelanggan dengan belum menaikkan tarif layanan. Ia menyebut bengkel sementara rela menurunkan profit meski harga oli sudah naik 20 persen.
Sikap serupa juga terlihat di bengkel Dokter Mobil. Pemiliknya, Lung Lung, menyampaikan bahwa kenaikan biaya terjadi hampir di seluruh kebutuhan operasional bengkel, bukan hanya pada satu pos tertentu.
Menurut Lung Lung, bahan dasar yang dipakai dalam operasional bengkel juga ikut terdorong naik. Oli, chemicals, dan parts menjadi beberapa contoh pos yang mengalami kenaikan, tetapi harga layanan ke konsumen belum ikut disesuaikan.
Beban usaha datang dari banyak sisi
Kondisi ini membuat bengkel berada dalam posisi serba sulit. Saat harga pengadaan naik lebih dulu, pelaku usaha harus memilih apakah beban tersebut ditahan sementara atau langsung diteruskan ke pelanggan.
Tekanan biaya juga disebut semakin terasa karena beberapa barang impor naik di kisaran 20 hingga 30 persen. Banyak kebutuhan bengkel masih bergantung pada bahan baku berbasis minyak dan komponen dari luar negeri.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong kenaikan itu. Di saat yang sama, harga bahan baku berbasis minyak juga turut memperbesar biaya pada produk pelumas dan sejumlah komponen tertentu.
Menjaga pelanggan tetap datang servis
Meski margin usaha tertekan, banyak bengkel belum serempak menaikkan tarif. Mereka masih menahan harga layanan karena khawatir pemilik kendaraan menunda perawatan jika ongkos servis bergerak terlalu cepat.
Pertimbangan itu cukup masuk akal bagi pelaku usaha. Servis berkala menjadi sumber pendapatan penting, tetapi kenaikan biaya servis juga bisa membuat pelanggan menunda datang ke bengkel.
Karena itu, sebagian bengkel memilih memangkas keuntungan untuk sementara. Cara ini dinilai lebih aman ketimbang kehilangan arus pelanggan di tengah biaya operasional yang terus naik.
Namun, ruang bertahan tanpa penyesuaian tarif tidak akan selamanya longgar. Jika harga oli dan spare part terus bergerak naik dalam beberapa bulan, tekanan pada bengkel akan semakin berat.
Situasi ini menunjukkan bahwa kenaikan biaya dari rantai impor tidak berhenti di tingkat pengadaan. Dampaknya langsung merambat ke perawatan kendaraan dan akhirnya ikut dirasakan konsumen di bengkel.
