80% Anak Lebih Memilih Teman untuk Curhat, Keluarga Dinilai Harus Berbenah

Author: Redaksi Android62

Sekitar 80% anak yang disurvei Forum Anak Jawa Tengah memilih bercerita kepada teman ketika menghadapi masalah. Temuan dari lebih dari 20.000 responden itu memperlihatkan rumah belum selalu menjadi ruang pertama yang dirasa aman untuk berbicara.

Hanya sekitar 20% anak dalam survei tersebut yang mengaku terbuka kepada orang tua. Kesenjangan ini menjadi perhatian Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi menjelang peringatan Hari Anak Nasional 2026.

Arifah menilai perlindungan anak tidak cukup dibebankan kepada sekolah atau pemerintah. Keluarga perlu menjadi fondasi awal agar anak merasa didengar, diterima, dan terlindungi saat menghadapi persoalan.

“Tema ini penting melihat dari semakin tingginya angka kekerasan terhadap anak. Dan kami melihat ini pondasi utamanya ada di keluarga,” kata Arifah dalam konferensi pers di Rumah Dinas Menteri PPPA, Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan, Selasa (21/7/2026).

Rumah sebagai ruang aman pertama

Menurut Arifah, perlu dicari alasan mengapa banyak anak tidak mempunyai waktu atau kesempatan untuk menyampaikan masalah kepada orang tua. Ketika komunikasi di rumah terbatas, teman sebaya lebih sering dipilih sebagai tempat mencari dukungan.

Kondisi tersebut penting karena jumlah anak mencapai sekitar sepertiga dari total penduduk Indonesia. Posisi itu menjadikan Perlindungan Anak sebagai kepentingan strategis yang berkaitan langsung dengan masa depan bangsa.

Lingkungan aman bagi anak juga tidak berhenti di rumah. Pemerintah menempatkan keluarga, satuan pendidikan, ruang publik, dan ruang digital sebagai bagian yang harus saling menopang.

Gerakan lintas sektor

Kementerian PPPA memperluas sinergi melalui gerakan nasional ruang aman dan nyaman untuk anak yang diinisiasi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Gerakan ini menggabungkan sejumlah kebijakan agar penanganan di tiap sektor tidak berjalan sendiri-sendiri.

Beberapa perangkat yang diintegrasikan mencakup Peraturan Presiden Nomor 87 tentang Peta Jalan Perlindungan Anak di Ranah Daring dan program PPD Tunas dari Kementerian Komunikasi dan Digital. Ada pula Keputusan Menteri Agama mengenai Pesantren dan Madrasah Ramah Anak serta Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah yang Aman.

Peringatan Hari Anak Nasional 2026 mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi Anak untuk Membangun Masa Depan Bangsa”. Sejak 2025, pelaksanaannya menggunakan konsep desentralisasi yang membuka kegiatan ramah anak di kementerian, lembaga, BUMN, pemerintah daerah, hingga desa.

Rangkaian kegiatan HAN ke-42

Kegiatan Sasaran Waktu atau Lokasi
Kunjungan ke Istana Negara 150 anak jalanan, pemulung, dan anak yang memerlukan perlindungan khusus 30 Juli 2026
Rekreasi ke Dunia Fantasi Anak-anak dalam rangkaian HAN 25 Juli 2026
Puncak HAN ke-42 Permainan tradisional dan Festival Budaya Anak Indonesia 23 Juli 2026, Kepulauan Riau dan Universitas Indonesia

Beritasatu.com melaporkan rangkaian HAN juga memuat Kampanye BERLIAN atau Bersama Lindungi Anak-Anak Kita, lokakarya Forum Anak, serta program KEMUDI sebagai saluran aspirasi anak kepada kementerian dan lembaga. Program Jelajah Sapa akan menyasar Bantar Gebang, yayasan penampungan korban tindak pidana perdagangan orang, dan anak-anak penyandang disabilitas.

Puncak peringatan di Kepulauan Riau digelar bersama SERUNI dengan permainan tradisional berbasis kearifan lokal. Festival Budaya Anak Indonesia di Universitas Indonesia juga menjadi bagian puncak HAN ke-42 pada 23 Juli 2026.

Rangkaian itu menempatkan Keluarga Ramah Anak sebagai kebutuhan nyata, bukan sekadar pesan seremonial tahunan. Ruang komunikasi yang terbuka di rumah diharapkan membuat anak memiliki tempat pertama untuk meminta pertolongan.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru