Gelar Adat di Pantai Lampung, Saibatin dan Pepadun Bertemu dalam Satu Prosesi

Author: Redaksi Android62

Pemberian gelar adat kepada Pangdam XXI/Radin Inten, Mayor Jenderal TNI Kristomei Sianturi, menjadi salah satu momen paling menonjol dalam Begawi Festival di Radin Inten Beach, Lampung Selatan. Prosesi itu berlangsung khidmat di hadapan penyimbang adat, tokoh masyarakat, dan ribuan warga yang memadati kawasan pantai.

Gelar adat tersebut diberikan oleh masyarakat adat Lampung Pepadun sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi Kristomei dalam menjaga keamanan, memperkuat persatuan, dan membangun kedekatan dengan masyarakat adat di Lampung dan Bengkulu. Momen ini menegaskan bahwa festival budaya itu tidak hanya menjadi panggung pelestarian tradisi, tetapi juga ruang perjumpaan sosial yang sarat makna.

Prosesi Adat Berjalan Khidmat di Pesisir

Kawasan Pantai Pasir Putih yang kini bernama Radin Inten Beach berubah menjadi arena budaya pada Sabtu, 11 Juli 2026. Tabuhan alat musik tradisional, prosesi adat, serta kehadiran ratusan muli dan mekhanai dari berbagai marga di Provinsi Lampung mewarnai jalannya acara.

Para peserta tampil mengenakan pakaian adat lengkap, termasuk kain tapis, siger, dan sesapur. Kehadiran mereka di tepi laut memberi gambaran bahwa tradisi Lampung tetap dijaga dan ditunjukkan secara terbuka kepada masyarakat luas.

Unsur Keterangan Asal Adat
Abung Siwo Mego Hadir sebagai perwakilan masyarakat adat Pepadun
Pubian Telu Suku Hadir sebagai perwakilan masyarakat adat Pepadun
Mego Pak Tulang Bawang Hadir sebagai perwakilan masyarakat adat Pepadun
Buay Lima Way Kanan Hadir sebagai perwakilan masyarakat adat Pepadun

Saibatin dan Pepadun Satu Panggung

Begawi Festival mempertemukan dua rumpun besar masyarakat adat Lampung dalam satu rangkaian acara. Untuk pertama kalinya, prosesi adat Saibatin dan Pepadun hadir berdampingan dalam satu panggung budaya yang menonjolkan persaudaraan, bukan perbedaan.

Dari masyarakat adat Pepadun hadir perwakilan Abung Siwo Mego, Pubian Telu Suku, Mego Pak Tulang Bawang, serta Buay Lima Way Kanan. Sementara itu, masyarakat adat Saibatin bertindak sebagai tuan rumah karena kegiatan digelar di Kabupaten Lampung Selatan.

Rangkaian acara diawali dengan Manjau, prosesi yang dalam tradisi Lampung menjadi simbol silaturahmi, penghormatan, dan penyambutan. Setelah itu, acara berlanjut ke turun mandi yang dimaknai sebagai penyucian diri serta doa untuk keselamatan dan keberkahan.

Mahasiswa Unila Dorong Pelestarian Budaya

Acara ini digagas mahasiswa Universitas Lampung sebagai ruang penting untuk pelestarian budaya Lampung di tengah perubahan zaman. Di hadapan tokoh adat, pemerintah, TNI, dan ribuan warga, tradisi sakral itu ditampilkan sebagai penanda bahwa Sai Bumi Ruwa Jurai masih hidup dalam praktik nyata.

Presiden BEM Universitas Lampung, Aditya Putra Bayu, mengatakan mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga identitas daerahnya. Ia menyebut Begawi Festival digagas agar masyarakat semakin mengenal adat Saibatin dan Pepadun sebagai warisan budaya yang harus terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Mahasiswa tidak hanya memiliki tanggung jawab di bidang akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral menjaga identitas daerahnya. Begawi Festival kami gagas agar masyarakat semakin mengenal adat Saibatin dan Pepadun sebagai warisan budaya yang harus terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Aditya.

Dihadiri Tokoh Daerah dan Pemerintah

Begawi Festival juga dihadiri Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, dan Pangdam XXI/Radin Inten Mayor Jenderal TNI Kristomei Sianturi. Kehadiran mereka memperlihatkan besarnya perhatian dari unsur masyarakat dan pemerintah terhadap acara ini.

Rahmat Mirzani Djausal menyebut festival tersebut sebagai momentum penting untuk mempererat persatuan sekaligus menjaga kelestarian budaya Lampung. Ia menegaskan bahwa pemerintah provinsi akan terus mendukung kegiatan yang mengangkat budaya daerah.

“Saibatin dan Pepadun adalah kekayaan budaya yang kita miliki bersama. Kegiatan seperti ini harus terus dijaga dan dilestarikan karena menjadi ruang mempererat persaudaraan sekaligus memperkenalkan budaya Lampung kepada masyarakat luas. Pemerintah Provinsi Lampung akan terus mendukung kegiatan yang mengangkat budaya daerah agar tetap hidup dan menjadi kebanggaan generasi mendatang,” kata Rahmat.

Tokoh adat Marga Pungguk Kotabumi bergelar Suttan Raja Putra Negara, Ansori Sabak, juga menilai kegiatan ini penting bagi masa depan budaya Lampung. Menurut dia, semakin banyak orang mengenal budaya Lampung, semakin besar peluang warisan leluhur itu tetap hidup dari generasi ke generasi.

Menjelang sore, prosesi adat perlahan berakhir, tetapi pesan yang dibawa festival itu tetap terasa kuat. Di Radin Inten Beach, Begawi Festival menegaskan bahwa Sai Bumi Ruwa Jurai hidup dalam persaudaraan, gotong royong, dan tekad menjaga warisan budaya di bumi Lampung.

Source: www.medcom.id
Berita Terbaru