Bensin E5 Masih Terbatas, Singkong hingga Aren Disiapkan Perluas Pasokan Etanol

Author: Redaksi Android62

Indonesia menyiapkan perluasan pasokan etanol untuk bensin dengan memanfaatkan bahan baku yang jauh lebih beragam daripada tetes tebu. Pertamina New & Renewable Energy atau Pertamina NRE memperkirakan pembangunan sekitar 20 hingga 30 pabrik baru dalam dua tahun dapat mendukung langkah tersebut.

Rencana ini penting karena program campuran bensin beretanol di dalam negeri masih berada pada tahap E5. Ketersediaan bahan baku yang stabil menjadi syarat utama bila kandungan etanol dalam bensin ingin ditingkatkan.

Bahan baku tidak lagi bertumpu pada tebu

Pertamina NRE menyiapkan singkong, jagung, sorgum, dan aren sebagai pilihan bahan baku bioetanol. Model multi-bahan baku itu dirancang agar pengembangan industri dapat menyesuaikan komoditas yang tersedia di tiap daerah.

CEO Pertamina NRE John Anis menyampaikan arah tersebut dalam paparan Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia Bersama TNI kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan bahwa perusahaan tidak hanya mengembangkan etanol dari satu jenis komoditas.

“Tapi kami juga mengembangkan dari multi-feedstock pak,” kata John Anis. Dalam paparannya, ia menyebut aren dari Sulawesi Utara serta singkong, jagung, dan sorgum sebagai komoditas yang dapat dimanfaatkan.

Bahan baku Potensi atau lokasi Status pengembangan
Tetes tebu Mojokerto, Jawa Timur Sudah diproduksi menjadi bioetanol
Aren Sulawesi Utara Pilihan multi-bahan baku
Singkong Disesuaikan dengan potensi lokal Bahan baku alternatif
Jagung dan sorgum Disesuaikan dengan potensi lokal Bahan baku alternatif

Fasilitas dapat mendekat ke sentra produksi

Pendekatan ini membuka peluang pembangunan fasilitas pengolahan yang lebih tersebar dibandingkan kilang yang hanya berada di beberapa lokasi. Pabrik bioetanol dapat dikembangkan mengikuti potensi perkebunan, pertanian, dan kearifan ekonomi di masing-masing wilayah.

Penggunaan singkong dan sorgum dinilai memberi fleksibilitas lebih besar untuk mengembangkan pasokan di provinsi lain. Penentuan komoditas akan bergantung pada ketersediaan bahan baku lokal, bukan pada satu sentra produksi saja.

Saat ini, Bioetanol Pertamina berbasis tetes tebu diproduksi di pabrik Mojokerto, Jawa Timur. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi 33.000 kiloliter per tahun.

Skema pengolahan yang mendekati daerah penghasil diharapkan dapat menghubungkan kebutuhan energi dengan kegiatan ekonomi petani setempat. Komoditas lokal dipandang berpotensi memberi nilai tambah bagi masyarakat yang memasok bahan baku industri bioetanol.

Tantangan pasokan dan kepastian harga

Menurut CNBC Indonesia, pemanfaatan bahan baku domestik juga dipandang sebagai jalan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bensin. Dana yang sebelumnya keluar untuk impor diharapkan dapat berputar kepada petani dalam negeri melalui penyerapan komoditas.

Namun, pembangunan pabrik baru bergantung pada kesiapan pasokan dan kebijakan yang memberikan kepastian bagi pelaku usaha maupun petani. Pertamina NRE menyoroti kebutuhan regulasi mandatori serta kepastian bahan baku dan harga sebagai fondasi pengembangan yang berkelanjutan.

Indonesia saat ini menjalankan Campuran Bensin E5 di 170 outlet Pertamina di Jawa Timur dan Jakarta dengan bahan baku tetes tebu. E5 berarti bensin mengandung 5% etanol, sementara John Anis menyebut India telah menerapkan campuran E20.

Perbedaan tingkat pencampuran itu menunjukkan besarnya kebutuhan memperkuat pasokan etanol domestik sebelum program dapat diperluas. Singkong, jagung, sorgum, aren, dan tetes tebu kini diposisikan sebagai fondasi pasokan yang saling melengkapi.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru