Bagi banyak pelaku usaha, persoalan paling mendesak saat ini bukan lagi mengejar pertumbuhan, melainkan memastikan perusahaan tetap bisa beroperasi. Apindo menilai tekanan yang datang bersamaan membuat dunia usaha nasional masuk ke fase bertahan hidup, dan kondisi ini membuat isu pemutusan hubungan kerja bukan lagi pembahasan utama.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam mengatakan, perusahaan menghadapi situasi yang penuh tantangan dan ketidakpastian. Menurut dia, biaya produksi terus naik, sementara daya beli masyarakat justru melemah, sehingga pelaku usaha harus segera menyesuaikan langkah agar bisnis tidak terseret lebih jauh.
Beban naik, permintaan belum pulih
Tekanan yang dihadapi dunia usaha datang dari banyak arah sekaligus. Biaya produksi meningkat, termasuk akibat konflik geopolitik sejak awal tahun, sedangkan konsumsi domestik belum cukup kuat untuk mengangkat permintaan.
Dalam kondisi seperti itu, banyak perusahaan memilih bergerak lebih hati-hati. Fokus mereka bergeser dari ekspansi agresif menjadi menjaga arus operasional agar kegiatan usaha tetap berjalan di tengah situasi yang belum memberi kepastian.
Bob menegaskan bahwa keadaan ini menunjukkan dunia usaha sedang berada dalam mode bertahan hidup lebih dulu. Ia menyebut dorongan utama pelaku usaha saat ini bukanlah memperbesar skala bisnis, melainkan menjaga perusahaan agar tidak berhenti di tengah tekanan biaya dan permintaan yang lemah.
PHK tidak lagi jadi pembahasan utama
Di tengah kondisi tersebut, Apindo memandang pemutusan hubungan kerja bukan lagi isu yang paling menonjol. Pengurangan tenaga kerja tetap perlu dihindari, tetapi pembahasannya tidak lagi berdiri sebagai topik pertama karena yang lebih penting adalah menjaga keberlangsungan usaha.
Bob menjelaskan bahwa upaya mencegah PHK harus dijaga lewat komunikasi yang baik di internal perusahaan. Ia menekankan pentingnya hubungan bipartit antara manajemen dan serikat pekerja, termasuk bagaimana komunikasi dibangun dan kepercayaan bersama dipertahankan.
“Bipartite antara perusahaan dan serikat pekerja” menjadi kunci, menurut Bob, agar perusahaan tetap punya ruang untuk bertahan tanpa harus mengambil langkah ekstrem. Dengan tekanan biaya yang tinggi dan permintaan yang belum pulih, stabilitas hubungan industrial dinilai semakin penting.
Ruang bantuan dinilai semakin sempit
Selain tekanan pasar, dunia usaha juga melihat keterbatasan dari sisi kebijakan. Bob menyebut ruang fiskal pemerintah saat ini praktis tertutup, sehingga harapan akan adanya insentif baru dinilai tidak realistis dalam waktu dekat.
Ia juga mengatakan pemerintah sedang membutuhkan likuiditas untuk menopang subsidi yang membengkak. Karena itu, dunia usaha diminta lebih mengandalkan daya tahannya sendiri ketimbang menunggu bantuan eksternal yang besar.
Kondisi tersebut membuat pelaku usaha harus menyusun ulang strategi di tengah tekanan berlapis. Di satu sisi, beban operasional terus bertambah, sementara di sisi lain daya beli belum cukup kuat untuk menjadi penopang pemulihan bisnis.
Strategi bisnis ikut berubah
Apindo menilai situasi ini bukan sekadar tantangan jangka pendek. Fase yang sedang dihadapi dunia usaha menunjukkan bahwa penyesuaian strategi menjadi keharusan ketika ekonomi belum memberi kepastian yang memadai.
Selama biaya produksi tetap tinggi dan konsumsi masyarakat belum membaik, mode bertahan hidup kemungkinan masih akan dominan di banyak perusahaan. Dalam keadaan seperti ini, menjaga kelangsungan usaha menjadi prioritas yang lebih penting daripada mengejar ekspansi.







