Binderku MHA kembali mendapat dorongan untuk lebih aktif di ruang digital setelah pendampingan dari mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia. Fokus utama pendampingan ini adalah pengelolaan media sosial, penguatan branding, dan komunikasi usaha agar lebih terarah.
Bagi UMKM seperti Binderku MHA, langkah tersebut menjadi penting karena persaingan usaha kini semakin bergeser ke platform digital. Dukungan ini tidak hanya membantu tampilan media sosial usaha menjadi lebih rapi, tetapi juga membuka peluang menjangkau pasar yang lebih luas.
Program pendampingan itu dijalankan mahasiswa Vokasi UI dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Mereka bekerja di bawah bimbingan dosen dan menerapkan pembelajaran berbasis praktik yang disesuaikan dengan kebutuhan nyata pelaku usaha.
Media sosial yang sempat kurang terkelola
Pendiri Binderku MHA, Fitriyah, merasakan langsung manfaat pendampingan tersebut. Ia menyebut akun media sosial usahanya yang sebelumnya kurang terkelola kini bisa diaktifkan kembali dengan bantuan mahasiswa.
Fitriyah juga mengakui bahwa selama ini ia belum fokus mengurus kanal digital usahanya. Akibatnya, akun media sosial Binderku MHA sempat tidak aktif secara optimal.
Melalui pendampingan ini, pengelolaan media sosial menjadi lebih terbantu. Komunikasi usaha pun diarahkan agar lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan pasar digital.
Penguatan identitas merek dan pasar digital
Selain media sosial, pendampingan juga diarahkan pada penguatan identitas merek dan optimalisasi platform digital. Tujuannya agar Binderku MHA bisa tampil lebih kuat saat berhadapan dengan persaingan usaha yang makin luas.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa komunikasi usaha memegang peran besar ketika UMKM ingin naik kelas. Penguatan branding menjadi salah satu cara agar usaha kecil lebih siap bersaing di ruang digital.
Bagi Binderku MHA, dukungan ini berarti lebih dari sekadar pembaruan tampilan akun. Pendampingan tersebut ikut membantu usaha ini membangun posisi yang lebih baik di pasar.
Usaha yang tumbuh dari keterbatasan
Perjalanan Binderku MHA juga memperlihatkan proses perkembangan usaha yang bertahap. Usaha ini dirintis Fitriyah saat masih menempuh pendidikan di Universitas Indonesia.
Pada awal berdiri, Binderku MHA belum langsung memproduksi barang sendiri. Karena keterbatasan modal, usaha itu sempat dijalankan dengan menjual produk milik pihak lain.
Seiring waktu, usaha tersebut berkembang menjadi lebih matang. Kini Binderku MHA sudah mampu memproduksi binder sendiri dan produk itu telah memiliki sertifikasi.
Ruang belajar bagi mahasiswa dan kebutuhan pendampingan ke depan
Bagi mahasiswa Hubungan Masyarakat Vokasi UI, program ini juga menjadi pengalaman belajar yang konkret. Mereka tidak hanya mempraktikkan teori kelas, tetapi juga berhadapan langsung dengan tantangan komunikasi yang dihadapi UMKM.
Keterlibatan itu membuat mahasiswa memahami bahwa membangun citra usaha di era digital membutuhkan strategi yang sesuai dengan kondisi lapangan. Di saat yang sama, kolaborasi ini ikut memberi kontribusi pada pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha kecil.
Fitriyah menilai pendampingan seperti ini masih perlu evaluasi agar hasilnya lebih maksimal. Ia berharap program serupa dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha yang membutuhkan bantuan dalam pemasaran digital dan penguatan merek di media sosial.
