Lebih dari US$3,5 juta atau sekitar Rp62 miliar berhasil dikumpulkan komunitas Muslim setelah penembakan di Islamic Center of San Diego. Dana itu dialokasikan untuk membantu keluarga korban sekaligus memperkuat keamanan institusi Islam yang menjadi sasaran ketakutan.
Penggalangan dana tersebut menjadi salah satu tanda paling jelas bahwa duka tidak berhenti pada suasana berkabung. Di saat tekanan terhadap Muslim Amerika masih terasa, respons yang muncul justru berbentuk perlindungan kolektif, dukungan hukum, dan dorongan agar komunitas makin aktif di ruang publik.
Aksi kolektif menggantikan rasa pasrah
Di konferensi tahunan Islamic Circle of North America (ICNA) di Baltimore, pesan yang mengemuka sangat tegas: belasungkawa saja tidak cukup. Di hadapan hampir 25.000 peserta pada rangkaian acara Sabtu dan Minggu, para pemimpin Muslim Amerika mendorong penguatan organisasi, solidaritas, dan ketahanan sosial.
Tema besarnya adalah bagaimana komunitas Muslim tidak berhenti pada rasa takut. Partisipasi politik, pengorganisasian massa, dan dukungan finansial kepada kandidat yang sejalan dengan nilai mereka diposisikan sebagai langkah nyata untuk menghadapi kebencian.
Tiga korban yang dipandang sebagai penjaga komunitas
Dalam forum itu, tiga korban tewas di San Diego ditempatkan sebagai simbol keberanian. Mereka adalah Amin Abdullah, petugas keamanan; Mansour Kaziha, pengurus masjid; dan Nadir Awad, seorang tetangga.
Lena Masri dari Council on American-Islamic Relations (CAIR) mengatakan Amin sempat membalas tembakan pelaku. Ia juga menjelaskan bahwa Mansour dan Nadir membantu serta menghubungi layanan darurat agar jemaah lain bisa selamat.
Masri menilai ketiganya melindungi ruang fisik komunitas, mulai dari masjid hingga sekolah dan jemaah. Setelah itu, ia menekankan perlunya menjaga ruang sipil komunitas, termasuk hak untuk beribadah, berbicara, berorganisasi, membela Palestina, dan membangun institusi.
Palestina hadir di tengah konferensi
Isu Palestina tampak kuat mewarnai suasana ICNA. Simbol solidaritas seperti motif semangka dan syal keffiyeh terlihat di banyak sudut konferensi.
Dalam sejumlah panel, para aktivis mengaitkan kebencian terhadap Muslim di Amerika Serikat dengan kebijakan luar negeri terkait konflik di Gaza. Altaf Husain, profesor di Howard University School of Social Work, menyebut ada upaya sistematis untuk membuat umat Muslim takut bersuara soal krisis kemanusiaan di Gaza.
Namun, kehadiran puluhan ribu peserta justru memperlihatkan bahwa tekanan itu belum berhasil membungkam komunitas tersebut. Forum itu menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa suara mereka tetap ada dan tetap aktif.
Tekanan hukum dan dukungan politik
Selain bergerak melalui penggalangan dana, komunitas Muslim juga menempuh jalur hukum. Di Florida, pengadilan federal membatalkan label teroris yang sebelumnya disematkan Gubernur Ron DeSantis terhadap CAIR.
Hakim Mark Walker menyatakan langkah pemerintah itu merupakan bentuk penekanan tidak langsung terhadap kebebasan berbicara kelompok minoritas. Putusan itu memberi dorongan simbolis bagi komunitas yang sedang menghadapi tekanan politik dan sosial.
Di sisi lain, seruan agar komunitas lebih aktif dalam pemungutan suara juga menguat. Dorongan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun daya tawar yang lebih besar di tengah meningkatnya Islamofobia di ruang publik.
Pesan untuk terus bergerak maju
Presiden ICNA Saad Kazmi menilai komunitas Muslim harus mengambil kendali atas masa depan mereka sendiri. Ia melihat tragedi di San Diego sebagai pengingat bahwa semakin banyak orang datang ke masjid dan percaya pada jalan untuk memperkuat diri.
Di Baltimore, semangat itu terasa jelas. Duka atas penembakan berubah menjadi tekad untuk melindungi institusi, memperkuat suara politik, dan menjaga ruang hidup komunitas Muslim di Amerika Serikat.
