Proyek LNG Abadi Blok Masela dengan nilai investasi sekitar Rp300 triliun memasuki tahap konstruksi. Bagi Kepulauan Tanimbar, proyek besar ini diukur bukan hanya dari nilai investasinya, melainkan dari peluang kerja dan perubahan biaya hidup yang dapat dirasakan warga.
Pemerintah memproyeksikan hingga 12.000 lapangan kerja tersedia pada masa konstruksi. Sekitar 30 persen tenaga kerja tersebut diproyeksikan berasal dari Maluku dan Tanimbar, sehingga perekrutan lokal menjadi perhatian utama masyarakat.
Peluang Kerja Menjadi Harapan Utama
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan warga Tanimbar dan Maluku Barat Daya akan diprioritaskan dalam perekrutan. Prioritas itu ditujukan agar investasi besar di sekitar wilayah mereka tidak hanya menjadi kegiatan ekonomi dari luar.
“Untuk ini kita akan juga prioritaskan warga Tanimbar dan Maluku Barat Daya untuk jadi pekerja di sini. Saya utamakan tier 1 dulu,” kata Bahlil saat peletakan batu pertama proyek tersebut.
Bahlil juga meminta kesempatan pekerjaan di kawasan proyek dibuka bagi pengusaha lokal. Namun, ia menegaskan proses pelibatan usaha setempat harus dijalankan secara profesional dan tidak membuka ruang kolusi, korupsi, maupun nepotisme.
| Komponen | Rincian Proyek |
|---|---|
| Nilai investasi | Sekitar 20,9 miliar dollar AS atau setara Rp300 triliun |
| Produksi LNG | Diproyeksikan 9,5 juta ton per tahun |
| Tenaga kerja konstruksi | Hingga 12.000 lapangan kerja |
| Target pekerja lokal | Sekitar 30 persen dari Maluku dan Tanimbar |
Dampak yang Diharapkan Masuk ke Kehidupan Harian
Warga berharap proyek ini mendorong perbaikan jalan, aktivitas pelabuhan, serta kelancaran distribusi kebutuhan pokok. Harapan lain adalah harga barang menjadi lebih terjangkau di wilayah kepulauan yang masih bergantung pada pasokan dari Ambon dan daerah lain.
Ekonomi Tanimbar selama ini banyak bertumpu pada laut dan kebun. Nelayan menangkap ikan, lobster, dan teripang, sementara warga lain mengolah kelapa menjadi kopra, menanam sagu, serta mengembangkan hortikultura.
Aktivitas tersebut terlihat di Pasar Ngirmase, Saumlaki, yang menjual hasil laut dan bahan pangan harian. Singkong, pisang, ubi, cabai, bawang, serta tomat menjadi bagian dari kebutuhan yang diperdagangkan, bahkan sejumlah bahan dapur dijual per piring seharga Rp5.000 hingga Rp10.000.
Masuknya kegiatan konstruksi diharapkan menciptakan perputaran ekonomi yang meluas hingga pasar, pelabuhan, usaha kecil, dan rumah tangga. Bagi generasi muda, peluang kerja di daerah sendiri juga dapat mengurangi dorongan untuk merantau demi mencari masa depan.
Penantian Panjang Proyek Gas Masela
Lapangan gas Masela ditemukan pada 2000 dan pengembangannya melewati perubahan konsep serta pergantian investor. Proyek ini juga telah melalui pergantian enam presiden sebelum akhirnya memasuki tahap konstruksi.
Pengembangan dilakukan di perairan sekitar Tanimbar dengan tujuan memperkuat ketahanan energi nasional dan mendorong hilirisasi gas. Proyek tersebut juga diharapkan menjadi penggerak ekonomi baru bagi Indonesia Timur.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan manfaat investasi tidak boleh hanya berhenti pada investor atau penerimaan negara. “Rakyat harus makmur. Ekonomi untuk rakyat, bukan rakyat untuk ekonomi. Masyarakat sekitar harus terdampak positif,” katanya saat meresmikan peletakan batu pertama secara virtual.
CEO INPEX Takayuki Ueda menyebut proyek ini sebagai kemitraan jangka panjang dengan Indonesia. Perusahaan menyatakan hadir untuk membangun dalam jangka panjang, bahkan hingga 50 tahun, sementara warga Tanimbar menunggu bukti manfaat itu hadir dalam pekerjaan dan daya beli.
Source: money.kompas.com






