PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencatat laba bersih Rp20 triliun sepanjang 2025, sementara kualitas asetnya ikut membaik dengan rasio kredit bermasalah atau NPL bruto turun menjadi 1,9%. Di saat yang sama, loan at risk atau LaR juga membaik ke level 8,5%.
Perbaikan itu menjadi penanda bahwa transformasi bisnis BNI mulai memberi hasil nyata pada mesin laba dan kualitas portofolio kredit. Bank pelat merah ini menempatkan pembenahan digital, efisiensi organisasi, optimalisasi jaringan layanan, dan penguatan manajemen risiko sebagai fondasi pertumbuhan berkelanjutan.
Penggerak utama datang dari layanan digital dan korporasi
Salah satu tumpuan paling besar berasal dari aplikasi wondr by BNI. Hingga akhir 2025, aplikasi ini telah menjaring lebih dari 12 juta nasabah dan ikut mendorong pertumbuhan tabungan ritel serta dana murah.
Di lini wholesale banking, BNIdirect juga menunjukkan kinerja yang kuat. Layanan transaksi bisnis dan giro korporasi itu mencatat kenaikan jumlah pengguna dan nilai transaksi di atas 25% sepanjang 2025.
| Indikator | Capaian | Keterangan |
|---|---|---|
| Laba bersih 2025 | Rp20 triliun | Menunjukkan penguatan kinerja perseroan |
| NPL bruto | 1,9% | Turun seiring perbaikan kualitas aset |
| LaR | 8,5% | Ikut membaik pada periode yang sama |
| Pengguna wondr by BNI | Lebih dari 12 juta nasabah | Hingga akhir 2025 |
| Pertumbuhan BNIdirect | Di atas 25% | Untuk pengguna dan nilai transaksi sepanjang 2025 |
Pencapaian pada dua lini tersebut memperlihatkan bahwa pembenahan internal tidak berhenti di sisi operasional. Transformasi itu juga mulai memperkuat sumber pertumbuhan bisnis BNI di segmen ritel sekaligus korporasi.
Aset, DPK, dan laba tetap solid hingga Mei 2026
Tren positif itu berlanjut memasuki periode berikutnya. Per akhir Mei 2026, total aset BNI tercatat mencapai Rp1.365,36 triliun dengan dana pihak ketiga atau DPK sebesar Rp1.063,92 triliun.
Pada periode yang sama, laba bersih BNI mencapai Rp9,05 triliun. Total ekuitas perseroan juga berada di level Rp160,99 triliun.
Data tersebut menegaskan bahwa penguatan bisnis BNI berjalan seiring dengan struktur keuangan yang tetap besar dan likuid. Di tengah pembenahan internal, kinerja perusahaan masih mampu mempertahankan skala usaha yang kuat.
Transformasi dipasang sebagai fondasi jangka panjang
Memasuki usia ke-80 sebagai bank nasional pertama milik negara, BNI memperkuat transformasi bisnis sebagai langkah dasar untuk meningkatkan performa, daya saing, dan pertumbuhan perseroan secara berkelanjutan. Arah itu juga selaras dengan penguatan tata kelola BUMN melalui Danantara Indonesia yang menitikberatkan penciptaan nilai jangka panjang.
Manajemen BNI menempatkan tema “Swadharma Bhakti Nagara” sebagai landasan moral bagi seluruh jajaran perseroan. Semangat itu diarahkan untuk terus meningkatkan kontribusi terhadap perekonomian nasional.
Dengan semangat “Terus Mengabdi untuk Terus Melayani”, manajemen menilai sinergi bersama Danantara akan mempermudah pengelolaan investasi yang terintegrasi. Arah tersebut diharapkan memberi manfaat berkelanjutan bagi negara dan pemegang saham.
Transformasi yang sedang berjalan menegaskan bahwa BNI tidak hanya mengejar pertumbuhan jangka pendek. Bank ini berupaya membangun kualitas bisnis yang lebih sehat melalui digitalisasi, efisiensi organisasi, penguatan layanan, dan disiplin risiko.
