Strategy Terjepit di Tengah Beban Dividen Rp19 Triliun, Sinyal Beli Bitcoin Muncul Lagi

Author: Redaksi Android62

Strategy menghadapi tekanan yang makin berat ketika kewajiban dividennya melonjak hampir empat kali lipat sejak awal 2026 menjadi sekitar US$1,2 miliar per tahun. Beban tetap itu datang di saat perusahaan masih sangat bergantung pada arah harga Bitcoin dan valuasi sahamnya ikut tertekan.

Di pasar, saham biasa Strategy dengan kode MSTR sempat jatuh ke US$82 pada Jumat pekan lalu, level terendah sejak Februari 2024. Saham preferen Stretch atau STRC juga sempat tertekan tajam hingga ke US$71, memperlihatkan rapuhnya sentimen investor terhadap model pendanaan perusahaan.

Kerugian teoretis dari simpanan Bitcoin ikut membesar

Strategy saat ini memegang 847.363 Bitcoin dengan harga rata-rata pembelian US$75.646 per koin. Dengan harga Bitcoin yang bertahan di kisaran US$60.000, posisi itu memunculkan kerugian teoretis sekitar US$13 miliar hingga US$14 miliar.

Tekanan tersebut membuat pasar kembali menyorot strategi leverage yang selama ini dipakai untuk menambah kepemilikan aset kripto. Menurut Jeff Dorman, Chief Investment Officer Arca, perusahaan itu tidak bisa memuaskan semua bagian dari struktur modalnya.

Sinyal pembelian baru tetap dikirim

Di tengah tekanan itu, Michael Saylor memberi sinyal bahwa Strategy akan kembali membeli Bitcoin dalam waktu dekat. Sinyal itu muncul lewat unggahan di platform X pada Minggu, 28 Juni 2026, ketika pasar justru melihat harga Bitcoin melemah dan saham perusahaan bergerak turun.

Pilihan itu menegaskan bahwa manajemen masih ingin menambah eksposur ke aset digital terbesar tersebut. Namun sinyal pembelian baru juga memperlihatkan kontras dengan kondisi finansial perusahaan yang sedang tertekan oleh harga aset, harga saham, dan beban dividen yang membengkak.

Ruang gerak perusahaan semakin sempit

Sejumlah analis menilai Strategy kini berada dalam posisi sulit karena setiap opsi membawa risiko masing-masing. Menjual Bitcoin dinilai dapat merusak reputasi korporasi, sementara menerbitkan saham baru berpotensi menggerus kepemilikan investor lama.

Dorman juga menegaskan bahwa perusahaan pada akhirnya harus menjual sesuatu. Pandangan itu menggambarkan tekanan pada strategi pendanaan berbasis leverage ketika aset utama yang menopangnya justru melemah.

Farrell mengingatkan bahwa risiko tidak seharusnya ditempatkan di neraca yang bergantung pada kenaikan harga suatu aset dalam jangka waktu tertentu. Pada saat yang sama, pihak manajemen Strategy memilih tidak memberi komentar resmi atas tekanan finansial yang muncul akibat skema tersebut.

Pasar menunggu penyeimbang baru

Catatan analis menyebut model bisnis Strategy yang mengandalkan leverage kini berada di bawah tekanan dan ikut meningkatkan volatilitas pasar BTC secara keseluruhan. Di sisi lain, pasar juga memerlukan pergerakan dari investor institusi lain untuk membantu menstabilkan harga aset digital ke depan.

Ada pula pandangan bahwa kapasitas Strategy untuk kembali mengakumulasi Bitcoin bisa terbatas pada level harga saham saat ini untuk STRC dan MSTR. Kondisi itu membuat sinyal beli dari Saylor terdengar berlawanan dengan posisi neraca perusahaan yang masih menanggung beban dividen besar dan valuasi yang tertekan.

Pada awal Juni, Strategy sempat menjual 32 Bitcoin senilai US$2,5, langkah yang ikut memengaruhi psikologis investor dan memicu volatilitas pada instrumen Stretch. Episode itu memperlihatkan bahwa setiap pergerakan kecil perusahaan tetap mampu mengguncang sentimen pasar yang sudah sensitif.

Berita Terbaru