Pasar Asia bergerak lebih hati-hati pada perdagangan Selasa ketika perhatian investor bergeser ke keputusan suku bunga Bank of Japan. Bank sentral Jepang itu diperkirakan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun, sehingga pasar memilih menahan diri setelah reli singkat sebelumnya.
Di tengah antisipasi itu, investor juga menimbang apakah kabar kesepakatan damai AS-Iran benar-benar cukup kuat untuk mempertahankan sentimen positif. Euforia yang sempat muncul pada sesi sebelumnya mulai mereda karena arah negosiasi lanjutan masih menyisakan banyak pertanyaan.
Pasar menilai ketenangan geopolitik belum tentu bertahan
Kesepakatan awal antara Washington dan Tehran sempat memberi napas lega kepada pelaku pasar pada Senin. Namun, langkah itu juga menempatkan Washington pada jalur benturan dengan Israel, sementara isu penting seperti masa depan program nuklir Iran belum tuntas dibahas.
Westpac menilai terobosan diplomatik tersebut bisa meredakan salah satu sumber volatilitas pasar. Meski begitu, lembaga itu mengingatkan bahwa daya tahan kesepakatan masih akan diuji karena banyak persoalan inti belum selesai.
Harga minyak ikut mencerminkan suasana yang lebih tenang. Brent crude futures naik tipis 0,1 persen menjadi US$83,25 per barel setelah sebelumnya sempat menyentuh posisi terendah tiga bulan.
Perhatian utama beralih ke bank sentral
Bank of Japan menjadi fokus terbesar karena keputusan suku bunga pada Selasa dinilai dapat mengubah arah pasar. Deputi Gubernur Shinichi Uchida dijadwalkan memimpin konferensi pers setelah rapat, karena Gubernur Kazuo Ueda sedang menjalani perawatan medis.
Analis Mitsubishi UFJ memperkirakan tidak akan ada perubahan besar dalam penilaian bank terhadap kondisi saat ini. Mereka juga menilai penjelasan Uchida kemungkinan besar akan banyak merujuk pada pidato Ueda pada 3 Juni.
Selain Jepang, pasar juga mencermati rapat Reserve Bank of Australia berikutnya. Jajak pendapat Reuters terhadap ekonom menunjukkan bank sentral Australia diperkirakan menahan siklus pengetatan untuk sementara.
Arah pasar aset global bergerak terbatas
Di pasar saham, MSCI indeks saham Asia-Pasifik terluas di luar Jepang sempat menghapus kenaikan dan bergerak datar. Tekanan datang dari saham Hong Kong setelah data penjualan ritel dan investasi aset tetap China lebih lemah dari perkiraan.
Nikkei 225 Jepang turun 0,3 persen dan mundur dari rekor tertinggi, sementara kontrak berjangka S&P 500 e-mini melemah 0,1 persen. Pergerakan itu menunjukkan kehati-hatian juga merembet ke pasar Amerika Serikat.
Perdagangan mata uang berlangsung tenang dengan indeks dolar AS bertahan di 99,69 dan tetap berada dalam kisaran sempit selama tiga sesi terakhir. Di sisi lain, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun naik tipis 0,2 basis poin menjadi 4,469 persen.
Emas bergerak terbatas dan naik 0,1 persen ke US$4.311,12 per ons, sedangkan pasar kripto cenderung melemah. Bitcoin turun 0,3 persen menjadi US$66.281,99 dan ether melemah 1,3 persen ke US$1.791,39.
Dengan kombinasi ketegangan geopolitik yang mulai mereda dan serangkaian keputusan bank sentral besar di depan mata, investor belum menunjukkan dorongan kuat untuk kembali mengejar aset berisiko. Arah berikutnya kemungkinan besar akan ditentukan oleh nada komunikasi para pembuat kebijakan dalam beberapa sesi mendatang.
