Honda Brio Satya mencatat penjualan 12.227 unit hingga Juni dan masih memimpin perbandingan di pasar mobil terjangkau. BYD Atto 1 berada tidak jauh di belakang dengan 10.116 unit pada periode yang sama.
Jarak penjualan kedua model menjadi perhatian karena Atto 1 sempat mengalami gangguan pasokan saat proses produksi lokal dimulai. Setelah perakitan di Indonesia kembali berjalan, penjualan mobil listrik tersebut kembali menembus ribuan unit pada Juni.
Peta Penjualan hingga Juni
Brio Satya juga masih unggul atas Toyota Agya dan Daihatsu Ayla dalam data penjualan hingga pertengahan tahun. Data yang dimuat ridertua.com menunjukkan empat model itu memiliki capaian yang cukup berbeda.
| Model | Penjualan hingga Juni | Keterangan |
|---|---|---|
| Honda Brio Satya | 12.227 unit | Tertinggi dalam perbandingan |
| BYD Atto 1 | 10.116 unit | Mengejar Brio Satya |
| Toyota Agya | 7.312 unit | Di bawah Brio Satya |
| Daihatsu Ayla | 4.383 unit | Di bawah Brio Satya |
Hasil tersebut menempatkan Brio Satya sebagai salah satu model dengan penjualan tertinggi di kelasnya. Honda juga disebut sebagai satu-satunya merek yang masih bertahan menghadapi dominasi Toyota dan Daihatsu di segmen LCGC.
Namun, perbandingan angka itu belum sepenuhnya menggambarkan persaingan dalam kondisi normal. Laju Atto 1 sempat tertahan dua kali, termasuk pada Mei ketika penjualannya hanya mencapai puluhan unit.
Peralihan dari Impor ke Perakitan Lokal
Tekanan penjualan Atto 1 terjadi ketika BYD mengalihkan skema pasokan dari impor utuh atau CBU menuju produksi lokal. Pengiriman unit dari luar negeri dihentikan sementara agar perusahaan dapat memusatkan perhatian pada proses perakitan di Indonesia.
Atto 1 dan BYD M6 menjadi dua model pertama yang dirakit secara lokal pada masa transisi tersebut. Dampak peralihan itu berlangsung sekitar satu bulan sebelum penjualan Atto 1 kembali membaik pada Juni.
Pulihnya produksi lokal membuka peluang lebih besar bagi Atto 1 untuk mempersempit selisih dengan Brio Satya. Persaingan kedua model juga mencerminkan perubahan pasar mobil terjangkau yang kini mulai diramaikan kendaraan listrik baterai atau BEV.
Harga Menjadi Modal Atto 1
BYD Atto 1 mengandalkan harga yang berada di kisaran paling terjangkau untuk mobil listrik. Varian termurahnya dibanderol Rp 199 jutaan dan sebelumnya mampu membukukan penjualan lebih dari 20 ribu unit dalam setahun di Indonesia.
Posisi harga tersebut membuat Atto 1 berpotensi menarik pembeli yang mulai mempertimbangkan BEV di kelas kendaraan terjangkau. Stabilnya produksi lokal akan menjadi faktor penting untuk menjaga ketersediaan unit di pasar.
Brio Satya Menopang Honda
Bagi Honda, Brio Satya memegang peran penting di tengah tren penjualan merek tersebut yang disebut terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Model ini menjadi salah satu penopang utama saat persaingan tidak lagi hanya datang dari sesama LCGC.
Honda belum menjual mobil listrik di Indonesia, sementara Super One dan 0 Alpha masih dalam tahap pengembangan. Selain Agya dan Ayla, Brio Satya juga menghadapi tekanan dari mobil keluarga seperti Sigra serta pilihan BEV murah dari merek China.
Keunggulan Brio Satya hingga Juni masih memberi Honda posisi yang kuat dalam persaingan saat ini. Akan tetapi, perkembangan pasokan Atto 1 setelah produksi lokal pulih dapat mengubah jarak penjualan pada periode berikutnya.
