Ikan sapu-sapu yang sering terlihat menempel di dasar perairan ternyata bukan ikan asli Indonesia. Jenis ini berasal dari Amerika Selatan dan termasuk kelompok armored catfish dari famili Loricariidae, sehingga keberadaannya di perairan lokal perlu dipahami sebagai bagian dari ancaman spesies invasif.
Status itu penting karena spesies invasif bukan sekadar hewan yang datang dari tempat lain. USGS menjelaskan bahwa organisme seperti ini dapat menyebar ke wilayah baru dan menimbulkan dampak negatif, mulai dari merusak ekosistem, menggusur satwa lokal, hingga merugikan ekonomi.
Menyebar lewat jalur manusia
Penyebaran ikan sapu-sapu ke Indonesia tidak terjadi secara alami. The Straits Times menyebut ikan ini awalnya populer sebagai ikan hias karena dianggap mampu membersihkan akuarium dari lumut dan alga.
Masalah muncul ketika sebagian pemilik melepaskan ikan itu ke alam liar saat sudah tidak sanggup merawatnya. Di sisi lain, penjualan dan penyelundupan ilegal juga ikut mempercepat masuknya ikan ini ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Sudah lama hadir di banyak wilayah
Di Indonesia, ikan sapu-sapu sudah ditemukan di banyak daerah dan tidak lagi bisa dianggap sebagai kasus yang berdiri sendiri. Genus Hypostomus dan Pterygoplichthys menjadi dua kelompok yang paling sering dijumpai di perairan lokal.
Sebarannya meliputi Jawa, Kalimantan, Bali, Sumatra, hingga Sulawesi. Kehadiran yang luas ini membuat risiko gangguan terhadap ekosistem perairan menjadi semakin serius jika pengendalian tidak dilakukan.
Tekanan pelan pada ekosistem
Dampak spesies invasif seperti ini sering tidak langsung terlihat. Namun, dalam jangka panjang, penyebarannya dapat menggeser populasi satwa lokal dan mengubah kondisi ekosistem secara perlahan.
Karena itu, ancaman ikan sapu-sapu kerap disebut sunyi. Saat penyebarannya terus meluas di sungai, danau, rawa, dan perairan lain, keseimbangan hayati lokal ikut tertekan tanpa selalu memunculkan tanda yang mudah dikenali sejak awal.
Tidak semua ikan penyedot adalah sapu-sapu
Di tengah kebiasaan masyarakat menyamakan semua ikan bermulut penyedot sebagai sapu-sapu, fakta di lapangan tidak sesederhana itu. Tidak ada spesies sapu-sapu asli Indonesia, dan semua sapu-sapu yang ditemukan di perairan Indonesia berasal dari luar wilayah ini.
Indonesia memang memiliki ikan lokal yang bentuknya mirip. Fishbase mencatat ada ikan dari famili Gastromyzontidae yang hidup di Kalimantan dan memiliki organ penyedot, tetapi ikan itu bukan sapu-sapu sejati karena berasal dari famili yang berbeda.
Kemiripan bentuk sering membuat publik sulit membedakan keduanya. Karena itu, identifikasi yang tepat menjadi penting agar ikan lokal tidak ikut disamakan dengan spesies invasif yang memerlukan pengendalian lebih serius.
Pengendalian perlu dilakukan bersama
Upaya pembasmian, pencegahan, edukasi, dan kontrol populasi disebut perlu dijalankan secara serius. Langkah tersebut juga harus melibatkan banyak pihak karena pengendalian spesies invasif di perairan tidak bisa diselesaikan dengan satu pendekatan saja.
Ancaman ikan sapu-sapu menunjukkan bahwa spesies invasif dapat bergerak pelan, tetapi dampaknya panjang. Ketika ikan yang awalnya dipelihara untuk akuarium sudah menyebar luas di berbagai perairan, risiko terhadap ekosistem lokal ikut meningkat.
Source: www.idntimes.com