Buntu Negosiasi AS-Iran, Pasar Kembali Khawatir Jalur Minyak Selat Hormuz Terganggu

Author: Redaksi Android62

Harga minyak dunia kembali bergerak naik setelah pasar menilai risiko gangguan pasokan masih jauh dari reda. Ketegangan di Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama karena jalur ini memegang peran penting dalam pengiriman energi global.

Di Singapura, Brent Crude naik USD3,18 atau 3,14% menjadi USD104,47 per barel. West Texas Intermediate juga menguat USD3,09 atau 3,24% ke level USD98,51 per barel.

Pasar kembali cemas setelah negosiasi buntu

Kenaikan ini muncul setelah Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan atas proposal perdamaian yang diajukan Washington. Pasar membaca kebuntuan itu sebagai tanda bahwa arus pasokan energi dunia masih rentan terganggu.

Optimisme sempat muncul ketika ada harapan konflik AS-Iran bisa mereda. Namun sentimen itu cepat melemah setelah Presiden Donald Trump menolak respons Iran terhadap proposal perdamaian tersebut.

Trump disebut menilai tanggapan Iran sebagai “tidak dapat diterima”. Sikap itu membuat pelaku pasar kembali menghitung risiko gangguan pasokan yang belum hilang dari jalur perdagangan energi utama dunia.

Selat Hormuz tetap jadi pusat perhatian

Selama 10 minggu konflik berlangsung, tekanan terhadap distribusi energi global belum benar-benar mereda. Selat Hormuz pun terus dipantau karena setiap peningkatan ketegangan di kawasan bisa segera memengaruhi pasar minyak.

Risiko di jalur ini tidak hanya berdampak pada satu wilayah, tetapi juga pada rantai distribusi energi internasional. Karena itu, pelaku pasar bereaksi cepat setiap kali muncul kabar baru dari kawasan tersebut.

Analis pasar dari IG Group, Tony Sycamore, mengatakan perhatian investor kini mengarah ke kunjungan Trump ke China. Ia menilai ada harapan agar Trump dapat mendorong Beijing menggunakan pengaruhnya terhadap Iran untuk mengurangi gangguan di Selat Hormuz dan membuka jalan menuju gencatan senjata yang lebih luas.

Pasokan global masih terasa ketat

Di sisi lain, CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, menyebut dunia telah kehilangan sekitar 1 miliar barel minyak dalam dua bulan terakhir akibat konflik itu. Menurut dia, pasar energi global tidak akan langsung stabil meski distribusi minyak nantinya kembali normal.

Pernyataan tersebut memperkuat pandangan bahwa dampak konflik tidak berhenti pada lonjakan harga harian. Pasar masih dibayangi kekhawatiran soal pasokan yang tertahan dan ketidakpastian di jalur pengiriman energi utama.

Kondisi itu membuat risiko geopolitik tetap sulit diabaikan oleh pelaku pasar. Selama gangguan pasokan belum benar-benar reda, tekanan pada harga minyak cenderung bertahan.

Kapal tanker mulai ambil langkah ekstra

Data pelacakan pengiriman dari Kpler menunjukkan dua kapal tanker minyak kembali keluar dari Selat Hormuz pekan lalu dengan sistem pelacak dimatikan. Langkah itu dilakukan untuk menghindari potensi serangan Iran.

Praktik semacam ini disebut makin umum sebagai upaya menjaga kelangsungan ekspor minyak dari Timur Tengah. Namun, langkah tersebut juga menegaskan bahwa pelayaran energi masih berada di bawah bayang-bayang risiko keamanan.

Situasi di lapangan menunjukkan pasar minyak belum keluar dari fase sensitif. Selama negosiasi AS-Iran belum menghasilkan terobosan dan gangguan di jalur pengiriman masih terjadi, harga minyak berpotensi terus bereaksi tajam terhadap kabar baru dari kawasan.

Source: www.medcom.id
Berita Terbaru