Capex Astra Agro Naik Ke Rp1,4 Triliun, Replanting Danabesar Dalam Perombakan Direksi

Astra Agro Lestari menambah porsi belanja modal untuk tahun buku ini hingga Rp1,4 triliun. Angka tersebut menunjukkan kenaikan 79 persen dibanding realisasi tahun sebelumnya yang berada di level Rp782 miliar, seiring langkah perusahaan menjaga laju usaha di industri sawit yang kompetisinya semakin ketat.

Kebijakan itu disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan di Jakarta. Pada agenda yang sama, pemegang saham juga menyetujui perubahan susunan direksi dengan menunjuk Muhammad Guruh sebagai direktur baru, menggantikan Eko Prasetyo yang memasuki masa pensiun.

Fokus utama ada pada peremajaan kebun

Porsi terbesar dari capex Astra Agro Lestari diarahkan ke program replanting. Sebanyak 63,8 persen dari total dana, atau sekitar Rp893 miliar, disiapkan untuk memperbarui tanaman yang sudah memasuki usia tidak produktif.

Perusahaan menargetkan peremajaan minimal 6.000 hektare dan mengejar hingga 8.000 hektare sampai akhir tahun ini. Program tersebut akan dijalankan di wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi sebagai sentra utama operasional perseroan.

Replanting menjadi bagian penting karena berkaitan langsung dengan produktivitas kebun dalam jangka panjang. Tanaman sawit yang menua cenderung menghasilkan tandan buah segar dengan efisiensi yang menurun, sehingga peremajaan diperlukan untuk menjaga pasokan dan hasil produksi.

Pembagian belanja modal Astra Agro Lestari

Berikut rincian alokasi capex perseroan:

  1. Replanting: 63,8 persen atau Rp893 miliar
  2. Pemeliharaan pabrik dan fasilitas pelabuhan: 19,8 persen
  3. Non-perkebunan, termasuk kendaraan angkut dan aset pendukung operasional: 16,4 persen

Selain kebun, perusahaan juga menaruh perhatian pada fasilitas pengolahan dan logistik. Dana untuk pemeliharaan pabrik dan fasilitas pelabuhan disiapkan agar rantai produksi dari hulu hingga hilir tetap berjalan lancar.

Sementara itu, porsi non-perkebunan digunakan untuk kebutuhan operasional lain yang menunjang kegiatan harian perusahaan. Pos ini mencakup kendaraan angkut dan aset pendukung yang berperan dalam menjaga kelancaran distribusi dan aktivitas lapangan.

Pergantian direksi terjadi saat kinerja menguat

Perubahan susunan direksi berlangsung di tengah penguatan kinerja perusahaan. Sepanjang tahun 2025, pendapatan bersih Astra Agro Lestari tercatat naik 31 persen menjadi Rp28,7 triliun.

Kenaikan tersebut ditopang oleh peningkatan produksi crude palm oil atau CPO sebesar 6 persen menjadi 1,2 juta ton. Di saat yang sama, harga jual rata-rata juga menguat 11 persen menjadi Rp14.316 per kilogram, sehingga memberi dorongan tambahan terhadap pendapatan.

Masuknya Muhammad Guruh ke jajaran direksi memperlihatkan adanya penyesuaian manajemen ketika perusahaan menyiapkan belanja modal yang lebih besar. Eko Prasetyo sebelumnya menjabat sebagai Senior Vice President Innovation & Agritech sejak 2021, sehingga peralihan ini sekaligus mencerminkan kesinambungan organisasi.

Disiplin biaya tetap dijaga

Direktur Astra Agro Lestari, Tingning Sukowignjo, menekankan pentingnya disiplin biaya di tengah fluktuasi harga CPO global. Perusahaan memilih mengandalkan praktik agronomi presisi untuk menjaga efisiensi dan mempertahankan daya saing.

Pendekatan itu menjadi relevan bagi emiten perkebunan yang sangat bergantung pada produktivitas kebun, efisiensi logistik, dan stabilitas harga jual. Dengan capex yang lebih besar, replanting yang lebih agresif, serta pembaruan struktur direksi, Astra Agro Lestari memasuki fase kerja yang diarahkan untuk menjaga momentum bisnis dan memperkuat fondasi pertumbuhan ke depan.

Berita Terkait