Chad menempati posisi teratas dalam daftar negara dengan warga paling sering mengaku marah, disusul Yordania tepat di bawahnya. Data ini menunjukkan bahwa kemarahan bukan hanya soal emosi personal, melainkan juga bisa mencerminkan tekanan sosial dan ekonomi yang dirasakan masyarakat di sejumlah negara.
Laporan Global Emotion Reports dari Gallup menempatkan Chad di urutan pertama dengan 47 persen responden dewasa yang menjawab “ya” saat ditanya apakah mereka mengalami kemarahan sepanjang hari sebelumnya. Yordania menyusul dengan 46 persen, hanya terpaut tipis dari posisi puncak.
Daftar 10 negara dengan tingkat kemarahan tertinggi
Di bawah Chad dan Yordania, daftar tersebut diisi Armenia dengan 43 persen, lalu Irak dan Sierra Leone yang sama-sama berada di angka 40 persen. Guinea menyusul dengan 39 persen, sedangkan Republik Demokratik Kongo dan Palestina masing-masing mencatat 38 persen.
| Negara | Persentase responden yang mengaku marah |
|---|---|
| Chad | 47% |
| Yordania | 46% |
| Armenia | 43% |
| Irak | 40% |
| Sierra Leone | 40% |
| Guinea | 39% |
| Republik Demokratik Kongo | 38% |
| Palestina | 38% |
| Iran | 37% |
| Maroko | 37% |
Iran dan Maroko melengkapi 10 besar dengan masing-masing 37 persen. Urutan ini memperlihatkan jarak yang tidak terlalu jauh antarnegera, tetapi cukup jelas untuk menunjukkan perbedaan pengalaman emosi di berbagai wilayah.
Tekanan konflik dan ekonomi ikut membentuk situasi
Gallup mengumpulkan data dari wawancara telepon dan tatap muka terhadap orang dewasa berusia 15 tahun ke atas di 144 negara dan wilayah. Sekitar 1.000 orang dewasa diwawancarai di tiap negara untuk menjawab pertanyaan sederhana tentang kemarahan pada hari sebelumnya.
Secara global, sekitar satu dari lima orang mengaku mengalami kemarahan selama hari sebelumnya. Angka itu menegaskan bahwa emosi ini cukup umum, tetapi intensitasnya tidak merata di semua negara.
Sejumlah negara dalam daftar atas diketahui menghadapi ketidakstabilan politik atau ekonomi, bahkan sebagian terdampak perang. Kondisi seperti itu kerap memicu frustrasi berkepanjangan yang akhirnya ikut tercermin dalam laporan emosi masyarakat.
Republik Demokratik Kongo menjadi contoh paling mencolok karena terus berada dalam pusaran konflik yang memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat rekor 27,7 juta orang di negara itu mengalami kelaparan akut pada tahun 2025, sementara lebih dari 7,8 juta orang telah mengungsi.
Situasi di DRC turut memperburuk kehidupan sehari-hari warga karena kekerasan mengganggu mata pencaharian, menaikkan inflasi, dan membatasi akses terhadap makanan serta bantuan kemanusiaan. Banyak warga pun terpaksa tinggal di kamp-kamp sementara akibat pengungsian yang berkepanjangan.
Di tengah kondisi itu, wabah kolera dan campak juga muncul di sejumlah lokasi, menambah beban sosial dan kesehatan masyarakat. Pada tahun 2026, DRC kembali menghadapi wabah Ebola baru di provinsi Ituri dan Kivu Utara yang terdampak konflik.
Rangkaian persoalan tersebut memperlihatkan bahwa kemarahan yang tercatat dalam survei sering berjalan beriringan dengan tekanan hidup yang lebih luas. Meski hanya menangkap emosi pada hari sebelumnya, temuan Gallup memberi gambaran tentang bagaimana konflik, krisis ekonomi, dan keadaan kemanusiaan dapat membentuk suasana batin masyarakat di banyak negara.
Source: www.beautynesia.id






