Obesitas, hipertensi, dan diabetes melitus tipe 2 kini tidak lagi identik dengan orang dewasa. Pada anak, tiga masalah itu mulai ditemukan pada usia yang semakin muda dan memunculkan kekhawatiran baru dalam dunia kesehatan.
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr Piprim Basarah, menilai perubahan pola makan dan minimnya aktivitas fisik menjadi pemicu utama. Ia menyebut pola ini sebagai tanda bergesernya tantangan kesehatan anak, dari dominasi penyakit infeksi ke penyakit tidak menular dan gangguan metabolik.
Pola hidup yang paling disorot
Kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu faktor yang paling banyak disorot. Saat anak lebih sering diam dan jarang bergerak, peluang gangguan kesehatan ikut meningkat.
Dr Piprim juga menyoroti penggunaan gawai yang berlebihan sejak usia dini. Kebiasaan itu dinilai dapat mengurangi gerak anak dan berdampak pada tumbuh kembang.
Selain memengaruhi aktivitas, paparan gawai yang tidak terkontrol disebut berpotensi berkaitan dengan keterlambatan bicara atau speech delay. Risiko gangguan perkembangan lain juga perlu diwaspadai keluarga.
Penyakit dewasa yang mulai masuk ke usia anak
Dr Piprim mengatakan ada tren peningkatan obesitas, hipertensi, hingga diabetes melitus tipe 2 pada usia yang semakin muda. Temuan itu dikaitkan dengan pola makan yang tidak sehat serta pola gerak yang rendah.
Kondisi tersebut membuat anak menghadapi risiko kesehatan yang sebelumnya lebih banyak dialami orang dewasa. Kebiasaan makan berlebihan dan kurang bergerak juga dapat memperburuk kondisi metabolik pada anak.
Masalah anak belum berhenti di obesitas
Di tengah sorotan pada penyakit gaya hidup, Indonesia masih menghadapi persoalan kesehatan anak lain yang belum tuntas. Salah satunya adalah stunting, yang penurunannya belum mencapai target yang diharapkan.
Dr Piprim menegaskan bahwa masalah kesehatan anak kini datang dari banyak arah. Di satu sisi masih ada stunting, sementara di sisi lain muncul peningkatan penyakit tidak menular akibat gaya hidup tidak sehat.
Keluarga menjadi garis depan pencegahan
IDAI mengingatkan orang tua untuk membangun pola hidup sehat dalam keluarga. Langkah sederhana yang disarankan adalah mendorong anak lebih aktif bergerak, menyediakan makanan bergizi seimbang, dan membatasi penggunaan gawai sesuai usia serta kebutuhan.
Pendekatan ini dianggap penting karena kebiasaan sehat pada anak sering terbentuk dari rumah. Saat pola makan, aktivitas fisik, dan penggunaan gawai diatur dengan baik, risiko penyakit gaya hidup pada anak dapat ditekan lebih dini.
Dengan perubahan kebiasaan yang berlangsung diam-diam, ancaman kesehatan pada anak kini datang tidak hanya dari infeksi dan gizi kurang. Beban baru berupa gangguan metabolik menuntut perhatian yang lebih konsisten dari keluarga dan lingkungan terdekat.
Source: www.beritasatu.com






