Mulai 1 Januari 2027, pemilik mobil plug-in hybrid dan EREV di China tidak lagi menikmati pembebasan pajak tahunan. Kebijakan itu menandai pergeseran besar dalam arah insentif kendaraan energi baru di negara tersebut.
Keputusan ini diumumkan oleh Kementerian Keuangan, Administrasi Pajak Negara, dan Kementerian Industri dan Teknologi Informasi. Ketiga lembaga itu menilai sebagian segmen industri kendaraan bersih sudah cukup kuat untuk berjalan tanpa dukungan negara yang terus-menerus.
PHEV dan EREV masuk kelompok yang paling terdampak
Kebijakan baru tersebut menyasar plug-in hybrid electric vehicles atau PHEV, termasuk extended-range electric vehicles atau EREV. Sebelumnya, dua jenis kendaraan ini menjadi salah satu penerima pembebasan pajak tahunan yang cukup signifikan.
Dengan berakhirnya fasilitas itu, biaya kepemilikan PHEV dan EREV diperkirakan naik. Dampaknya berpotensi terasa kuat di segmen premium, termasuk model SUV seperti Li Auto L9 yang populer di China.
Perubahan ini juga memperlihatkan arah kebijakan yang makin condong ke elektrifikasi penuh. PHEV dan EREV masih bergantung pada mesin bensin sebagai generator atau cadangan, sehingga kini posisinya tampak tidak sekuat kendaraan listrik murni di mata pembuat kebijakan.
Segmen komersial ikut mengalami penyesuaian
Tidak hanya mobil penumpang, kendaraan komersial juga ikut terdampak. Mulai 2027, kendaraan komersial berbasis baterai listrik atau BEV serta kendaraan komersial berbasis sel bahan bakar juga tidak lagi mendapat pembebasan pajak tahunan.
Artinya, armada pengiriman listrik dan truk listrik yang selama ini terbantu insentif fiskal harus bersiap menghadapi beban biaya baru. Penyesuaian ini memperluas perubahan kebijakan ke luar pasar konsumen pribadi.
Dampak ke konsumen dan produsen
Bagi konsumen, kenaikan biaya kepemilikan bisa memengaruhi keputusan membeli. Sebagian pembeli mungkin beralih ke BEV, sementara sebagian lain bisa kembali mempertimbangkan kendaraan konvensional, tergantung harga, infrastruktur pengisian daya, dan jarak tempuh.
Bagi produsen, kebijakan ini dapat mendorong percepatan fokus ke kendaraan listrik murni. Perusahaan dengan portofolio kuat di hybrid dan EREV perlu menyesuaikan strategi produk dan pemasaran agar tetap kompetitif di pasar yang berubah cepat.
Meski demikian, pasar kendaraan energi baru di China tetap diperkirakan tumbuh. Kesadaran lingkungan yang meningkat, kemajuan teknologi baterai, perluasan infrastruktur pengisian daya, dan dukungan kebijakan yang masih berlaku untuk BEV murni masih menjadi pendorong utama.
Dalam konteks yang lebih luas, langkah ini menunjukkan upaya China menata ulang insentif agar lebih selektif. Saat teknologi hybrid dan EREV dinilai makin matang, pemerintah tampaknya ingin mengarahkan dukungan hanya ke segmen yang masih paling membutuhkan dorongan.
Source: moladin.com






