CLARITY Act Terancam Tersendat, Syarat Etika Thom Tillis Bisa Ubah Arah Regulasi Kripto AS

Author: Redaksi Android62

Satu suara di Senat Amerika Serikat kini bisa menjadi penentu nasib pembahasan Digital Asset Market CLARITY Act. Senator Thom Tillis berada di posisi penting karena ia duduk di Komite Perbankan Senat, dan sikapnya disebut dapat mengubah arah dukungan terhadap rancangan aturan aset digital itu.

Pusat tarik-menarik bukan hanya soal struktur pasar kripto, melainkan juga soal bahasa etika yang ingin dimasukkan ke dalam naskah undang-undang. TD Cowen menilai Tillis dapat berubah dari salah satu perunding utama menjadi penentang jika ketentuan itu tidak dimasukkan sebelum RUU keluar dari Senat.

Etika jadi syarat yang tidak bisa diabaikan

Tillis menyampaikan kepada Politico bahwa ia ingin ada bahasa etika di dalam RUU tersebut sebelum prosesnya meninggalkan Senat. Ia bahkan menegaskan bahwa tanpa itu, posisinya bisa bergeser dari pihak yang ikut merundingkan menjadi pihak yang menolak saat pemungutan suara.

Pernyataan itu membuat negosiasi semakin sensitif karena isu etika tidak lagi berdiri sebagai detail tambahan. TD Cowen menilai dorongan tersebut punya bobot politik besar dan dapat mengubah arah pembahasan RUU secara keseluruhan.

Menurut Jaret Seiberg, managing director TD Cowen’s Washington Research Group, langkah Tillis juga terlihat sebagai upaya membangun warisan politik. Pandangan itu muncul karena senator tersebut tidak lagi maju untuk pemilihan berikutnya.

Dampaknya meluas ke kepentingan politik dan bisnis

Pendorong utama di balik perdebatan etika ini juga terkait dengan kekhawatiran atas kepentingan bisnis keluarga Trump. Karena itu, pembahasan CLARITY Act tidak lagi hanya menyentuh pasar aset digital, tetapi juga masuk ke wilayah politik yang lebih luas.

Di saat yang sama, Gedung Putih dan pelaku industri justru mendorong agar rancangan aturan itu bergerak cepat. Presiden Donald Trump sebelumnya menyebut RUU tersebut sebagai salah satu prioritas utama setelah menghadiri pertemuan eksklusif di Mar-a-Lago bersama pemegang memecoin $TRUMP.

Trump juga memperingatkan industri perbankan agar tidak menghambat legislasi kripto. Ia mengatakan Gedung Putih akan melindungi rancangan aturan struktur pasar itu dari pihak-pihak yang mencoba merusaknya, termasuk melalui lobi bank yang menolak ketentuan reward stablecoin karena dianggap bisa menggerus simpanan bank tradisional.

Masih ada hambatan lain di jalur legislasi

Meski isu etika menjadi titik tekanan paling terlihat, TD Cowen menilai CLARITY Act masih menghadapi lebih banyak rintangan. Seiberg menyebut ada lima hambatan tambahan yang ikut memperumit jalan RUU, sehingga peluang kompromi di Senat tidak menjadi lebih mudah.

Salah satu hambatan yang disorot adalah kekurangan komisaris di Commodity Futures Trading Commission atau CFTC. TD Cowen juga mencatat adanya kekhawatiran terkait penggunaan pembayaran digital oleh Iran, yang menambah lapisan sensitivitas dalam pembahasan regulasi.

Selain itu, lembaga tersebut menyoroti konflik yang terhubung dengan proyek World Liberty Financial yang berafiliasi dengan Trump. Kombinasi faktor-faktor ini membuat pembahasan semakin sulit bergerak mulus karena masing-masing isu membawa konsekuensi politik dan regulasi tersendiri.

Peluang pengesahan masih terbatas

Dengan tekanan dari Gedung Putih, dorongan industri, serta daftar hambatan yang terus menumpuk, masa depan CLARITY Act masih belum pasti. TD Cowen memperkirakan peluang pengesahan RUU itu pada tahun ini hanya sekitar satu banding tiga.

Jika masalah-masalah tersebut tidak segera diselesaikan, Seiberg memperingatkan bahwa aturan akhir untuk pasar kripto Amerika bisa saja baru benar-benar berlaku pada 2029. Situasi ini menunjukkan bahwa satu senator, lewat syarat etika yang ia ajukan, memiliki kapasitas besar untuk mengubah arah pembahasan pasar aset digital di Washington.

Berita Terbaru