Biaya pola makan sehat di dunia kini mencapai 4,28 dolar berdasarkan paritas daya beli atau PPP per hari. Angka itu jauh melampaui garis kemiskinan ekstrem global sebesar 3 dolar PPP per orang per hari.
Selisih biaya tersebut membuat 2,69 miliar orang belum mampu membeli makanan yang cukup beragam untuk memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi. Persoalan ini menunjukkan bahwa turunnya kelaparan global belum otomatis berarti akses terhadap makanan bergizi telah membaik.
Kalori Murah Belum Tentu Memenuhi Gizi
Kelompok berpendapatan rendah kerap harus memilih pangan termurah agar kebutuhan kalori harian tercukupi. Namun, pilihan itu belum tentu mencakup buah, sayuran, produk susu, daging, dan kelompok pangan lain yang diperlukan dalam pola makan beragam.
Kepala ekonom FAO, Maximo Torero, menilai perbedaan antara biaya diet sehat dan batas kemiskinan sangat besar. “Kebijakan tersebut berarti menyediakan kalori, tetapi bukan keberagaman makanan,” ujar Torero mengenai arah dukungan pangan yang berlaku di banyak negara.
| Indikator | Data | Periode |
|---|---|---|
| Biaya diet sehat | 4,28 dolar PPP per hari | Laporan 2026 |
| Garis kemiskinan ekstrem global | 3 dolar PPP per orang per hari | Global |
| Penduduk tak mampu membeli makanan sehat | 2,69 miliar orang | Laporan 2026 |
| Penduduk dunia mengalami kelaparan | 7,8 persen | 2025 |
Subsidi Pangan Dinilai Terlalu Bertumpu pada Serealia
Torero menjelaskan bahwa subsidi pemerintah selama ini banyak berfokus pada serealia dan makanan pokok bertepung. Dukungan bagi konsumsi daging, produk susu, buah, serta sayuran dinilai belum sebanding.
Arah kebijakan tersebut dapat membantu masyarakat memperoleh energi dari pangan pokok. Akan tetapi, keterbatasan pilihan pangan berisiko memperburuk masalah gizi dan kesehatan dalam jangka panjang.
WHO mencatat prevalensi obesitas pada orang dewasa naik dari 12,1 persen pada 2012 menjadi 16,2 persen pada 2024. Torero mengaitkan kondisi itu dengan beban kesehatan yang lebih luas, termasuk penyakit kronis seperti diabetes dan kanker.
Afrika Menanggung Beban Terbesar
Akses terhadap Diet Sehat menjadi persoalan paling berat di Afrika. Pada 2025, sebanyak 66,6 persen penduduk kawasan itu dilaporkan tidak mampu membeli makanan sehat.
Proporsinya lebih dari dua kali lipat dibandingkan Asia maupun Amerika Latin dan Karibia. Afrika juga mencatat sekitar 309 juta penduduk kelaparan, lebih banyak daripada Asia yang mencapai sekitar 292 juta orang.
| Wilayah atau Indikator | Jumlah atau Proporsi | Periode |
|---|---|---|
| Penduduk Afrika tak mampu membeli makanan sehat | 66,6 persen | 2025 |
| Penduduk kelaparan di Afrika | Sekitar 309 juta orang | 2025 |
| Penduduk kelaparan di Asia | Sekitar 292 juta orang | 2025 |
Besarnya jumlah penduduk terdampak di Afrika berkaitan antara lain dengan pertumbuhan populasi yang lebih cepat. Meski begitu, proporsi penduduk yang mengalami kelaparan di kawasan tersebut mulai menurun untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun.
Perbaikan Rantai Pasok Berpeluang Menekan Harga
Laporan Ketahanan Pangan yang disusun lima badan PBB menilai investasi infrastruktur serta penelitian dan pengembangan dapat membuat pangan bergizi lebih mudah dijangkau. Pemodelan dalam laporan itu memperlihatkan rantai pasok yang lebih efisien berpotensi menurunkan harga daging, produk susu, buah, dan sayuran.
Dorongan konsumsi buah serta sayuran juga dipandang dapat memberi manfaat ekonomi melalui penurunan beban kesehatan akibat pola makan buruk. Kelaparan global memang turun dari 8,1 persen pada 2024 menjadi 7,8 persen pada 2025, tetapi miliaran orang masih belum mampu membeli menu sehat dan beragam.
