Dari Gudeg hingga Kabsah, TK Aisyiyah 29 Depok dan Sekolah Indonesia Riyadh Saling Mengenal Lewat Kuliner

Author: Redaksi Android62

Kegiatan pengenalan makanan tradisional mempertemukan anak-anak TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal 29 Depok dan Sekolah Indonesia Riyadh dalam suasana yang hangat dan akrab. Lewat cara yang sederhana, dua lingkungan pendidikan di negara berbeda itu saling berbagi cerita tentang kuliner khas daerah masing-masing.

Pertemuan ini menjadi ruang belajar yang tidak hanya mengenalkan rasa, tetapi juga membuka wawasan anak usia dini tentang identitas budaya. Saat satu kelas menampilkan makanan Nusantara dan kelas lain memperkenalkan sajian dari Arab Saudi, interaksi yang tercipta berjalan ringan namun tetap bermakna.

Di sisi Depok, Kepala TK Aisyiyah 29, Nashihatud Diniyah, menegaskan bahwa kekayaan kuliner Indonesia sangat besar dan layak dikenalkan sejak dini. Ia menyebut Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan 38 provinsi, 514 kota dan kabupaten, serta lebih dari 5.300 makanan tradisional yang tersebar di berbagai daerah.

Menurut Diniyah, makanan tradisional tidak hanya menarik dari sisi cita rasa, tetapi juga terkait dengan penggunaan rempah yang baik untuk kesehatan. Karena itu, pengenalan kuliner daerah dinilai penting agar anak-anak tetap dekat dengan warisan budaya di tengah maraknya makanan siap saji.

Dari Riyadh, Kepala Sekolah Indonesia Riyadh, Nono Purnomo, menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut. Ia mengirim salam persahabatan kepada anak-anak TK Aisyiyah 29 Depok dan menilai kerja sama ini dapat memperluas pengetahuan peserta didik tentang makanan tradisional Indonesia maupun Arab Saudi.

Nono juga melihat kolaborasi lintas negara seperti ini sebagai jembatan persaudaraan antarkomunitas pendidikan. Meski dipisahkan jarak dan perbedaan waktu antara Depok dan Riyadh, kedua sekolah tetap bisa terhubung dalam kegiatan yang memberi pengalaman belajar bersama.

Dalam sesi perkenalan, anak-anak TK Aisyiyah 29 Depok menghadirkan beragam makanan khas Nusantara. Deretan yang ditampilkan antara lain gudeg Yogyakarta, nasi uduk Betawi, nasi padang, nasi goreng, soto lamongan, bakso malang, sate ayam madura, kue apem, onde-onde, gemblong, lemper, siomay bandung, pempek Palembang, martabak bandung, dawet ayu banjarnegara, dan es teh solo.

Sementara itu, anak-anak dari Sekolah Indonesia Riyadh memperkenalkan kabsah, baklava, kunafa, samosa, halawat, khaliyat nahl, luqoimat, falafel, lalu dilengkapi minuman seperti laban, susu onta, asir atau jus, dan sahi karak. Ragam sajian itu menunjukkan bahwa kuliner di dua wilayah memiliki ciri yang berbeda, tetapi sama-sama lahir dari tradisi yang hidup di masyarakat.

Kegiatan berlangsung sekitar satu setengah jam dan diwarnai antusiasme yang terlihat dari para peserta didik. Anak-anak diberi ruang untuk menyampaikan makanan yang mereka kenal, sementara para guru menjaga suasana agar tetap santai, edukatif, dan saling menghargai.

Melalui kegiatan seperti ini, pendidikan anak usia dini tampak tidak hanya berfokus pada pengenalan materi belajar, tetapi juga pada upaya menjaga kedekatan anak dengan budaya. Makanan tradisional pun hadir sebagai pintu masuk untuk mengenalkan keberagaman, membangun rasa ingin tahu, dan menanamkan penghargaan terhadap warisan budaya sejak usia dini.

Source: suaraaisyiyah.id
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru